Kekalahan PSM Makassar atas PSS Sleman dalam laga pekan ke-31 Liga 1, Sabtu (4/5/2025), meninggalkan rasa getir bagi tim Juku Eja. Hasil akhir 1-3 tersebut diwarnai protes keras dari kubu PSM, khususnya Kapten tim, Yuran Fernandes, dan pelatih Bernardo Tavares, yang menilai kinerja wasit sangat berpengaruh terhadap jalannya pertandingan.
Kedua petinggi PSM tersebut secara terbuka mengecam keputusan-keputusan wasit yang dianggap merugikan timnya. Kritik pedas dilontarkan tidak hanya menyoroti beberapa momen krusial, namun juga mempertanyakan kredibilitas sang pengadil lapangan.
Kapten PSM Mengamuk: Wasit Tak Layak di Liga 1
Yuran Fernandes, kapten PSM Makassar asal Tanjung Verde, tak mampu menahan amarahnya pasca-pertandingan. Dalam konferensi pers, ia secara blak-blakan menyatakan kekecewaannya terhadap kinerja wasit.
Ia menilai wasit memiliki agenda terselubung untuk membantu PSS Sleman. “Saya kira semua tahu apa yang terjadi dan apa yang dilakukan wasit,” tegas Yuran. Ia menambahkan, “Wasit datang ke sini dengan satu tujuan, yaitu membantu PSS.”
Yuran menekankan bahwa ia hanya menginginkan pertandingan yang adil. Namun, menurutnya hal itu tidak terwujud.
Pernyataan Yuran semakin keras. Ia bahkan menilai wasit tak pantas memimpin laga Liga 1. “Wasit tidak layak bekerja di Liga 1, saya harap dia keluar dari liga 1 dan selesai kariernya,” ujarnya dengan nada tinggi.
Ia juga menyoroti kurangnya penghormatan wasit kepada kedua tim yang bertanding.
Bernardo Tavares: Keputusan Wasit Sangat Berpengaruh
Pelatih PSM Makassar, Bernardo Tavares, turut menambahkan suara kritisnya. Ia mempertanyakan beberapa keputusan kontroversial wasit yang dianggap merugikan timnya.
Salah satu yang disorot Tavares adalah dianulirnya gol Yuran Fernandes di babak pertama. Di sisi lain, pelanggaran terhadap Fahrul Aditia di kotak penalti oleh pemain PSS dibiarkan begitu saja.
“Saya kira wasit sangat berpengaruh dalam pertandingan ini,” ujar Tavares. “Fahrul didorong tapi dianggap bukan pelanggaran, sementara gol Yuran dianulir karena pelanggaran,” tambahnya.
Tavares juga menyoroti gol ketiga PSS yang dianggapnya berbau pelanggaran. Gustavo Tocantins dinilai melakukan pelanggaran terhadap Syahrul Lasinari sebelum mencetak gol tersebut.
Namun wasit mengabaikan hal tersebut dan membiarkan permainan berlanjut hingga PSM kebobolan. Kekecewaan Tavares begitu kentara.
Kekecewaan Mendalam dan Ancaman Kirim Tim U-18
Saking kecewanya dengan kinerja wasit, Bernardo Tavares bahkan sampai melontarkan pernyataan kontroversial. Ia menyatakan lebih memilih menurunkan tim U-18 jika kinerja wasit tetap buruk.
“Kalau memang begini, kenapa tidak diberi tahu sejak awal? Saya bisa kirim U-18 atau U-20 ke sini,” kata Tavares. Pernyataan ini menunjukkan betapa besar kekecewaan yang dirasakannya.
Tavares menjelaskan bahwa emosi pemain meningkat dan sulit dikendalikan di babak kedua karena keputusan-keputusan wasit yang kontroversial.
Tim lebih terfokus pada kinerja wasit daripada penampilan mereka sendiri. Hal inilah yang menyebabkan banyak kesalahan di babak kedua.
Kekalahan PSM Makassar atas PSS Sleman bukan hanya soal strategi dan permainan, namun juga menjadi sorotan tajam atas kualitas kepemimpinan wasit di Liga 1. Protes keras dari kubu PSM ini menjadi catatan penting yang perlu ditindaklanjuti oleh pihak terkait demi menjaga sportifitas dan kualitas kompetisi.





