Sepak bola Indonesia kembali diwarnai insiden kerusuhan suporter. Kejadian terbaru terjadi seusai pertandingan Arema FC melawan Persik Kediri, menambah panjang daftar insiden serupa di tahun 2025. Tindakan tegas dan efek jera bagi para pelaku kerusuhan menjadi krusial untuk menyelamatkan citra sepak bola nasional. PSSI melalui Komisi Disiplinnya perlu mengambil langkah-langkah yang lebih efektif untuk mencegah terulangnya peristiwa serupa.
Hingga bulan Mei 2025, setidaknya lima insiden kerusuhan suporter telah terjadi di berbagai liga di Indonesia. Beberapa klub telah menerima sanksi, seperti Persela Lamongan yang menjalani hukuman tanpa penonton selama satu musim di Liga 2. Namun, perlu dipertanyakan apakah sanksi tersebut sudah cukup efektif untuk memberikan efek jera. Mungkin perlu dipertimbangkan penerapan sanksi tambahan, seperti pengurangan poin, agar klub lebih bertanggung jawab atas perilaku suporternya. Larangan suporter away juga tetap diberlakukan untuk menekan potensi kerusuhan.
5 Kericuhan Sepak Bola Indonesia Sepanjang 2025
Insiden kerusuhan mewarnai berbagai laga di tanah air sepanjang tahun ini, menunjukkan masih lemahnya pengawasan dan edukasi kepada suporter. Kerusuhan tak hanya terjadi di Liga 1, tetapi juga merambah ke Liga 2, Liga 3, dan Liga 4. Kondisi ini menandakan perlunya penanganan komprehensif dan terintegrasi dari berbagai pihak.
1. PPSM Magelang vs Persibat Batang – Liga 4
Kericuhan di laga babak 8 besar Liga 4 antara PPSM Magelang dan Persibat Batang pada 12 Februari 2025 menjadi salah satu catatan buruk awal tahun. Kekalahan 1-2 PPSM memicu reaksi pemain yang kemudian meluas ke tribun penonton. Insiden ini menunjukkan bahwa masalah kerusuhan tak memandang level kompetisi.
2. Persipa Pati vs Persipura Jayapura – Liga 2
Pada hari yang sama, playoff degradasi Liga 2 antara Persipa Pati dan Persipura Jayapura juga diwarnai kerusuhan. Kemenangan Persipura dengan skor 2-1 memicu kemarahan suporter tuan rumah. Mereka menyerbu lapangan dan merusak fasilitas stadion.
3. Persija Jakarta vs Persib Bandung – Liga 1
Laga big match Liga 1 antara Persija Jakarta dan Persib Bandung pada 16 Februari 2025 juga tak luput dari kerusuhan, meskipun terjadi di luar stadion. Aksi pengejaran terhadap suporter Persib, intimidasi, dan pemukulan terjadi di Stasiun Jatinegara. Kepolisian mengamankan 37 orang dan menetapkan dua tersangka.
4. Persela Lamongan vs Persijap Jepara – Liga 2
Pertandingan Persela Lamongan melawan Persijap Jepara di Stadion Tuban Sport Center pada 18 Februari 2025 juga diwarnai kerusuhan. Suporter menyalakan flare yang memaksa wasit menghentikan pertandingan. Kerusakan fasilitas stadion juga terjadi pasca-pertandingan.
5. Arema FC vs Persik Kediri – Liga 1
Insiden paling baru terjadi pada laga Arema FC melawan Persik Kediri pada 11 Mei 2025. Kekalahan telak 0-3 Arema FC memicu aksi pelemparan terhadap bus Persik Kediri. Kaca bus pecah dan pelatih serta asisten pelatih Persik mengalami luka-luka. Insiden ini kembali mengingatkan Tragedi Kanjuruhan 2022 dan menunjukkan belum adanya pembelajaran yang cukup dari kejadian tersebut.
Arema FC telah menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut. Namun, peristiwa ini menjadi bukti nyata betapa sulitnya merubah perilaku suporter yang cenderung bertindak anarkis. PSSI dan stakeholder terkait perlu melakukan evaluasi menyeluruh dan mencari solusi yang lebih komprehensif.
Pencegahan dan edukasi menjadi kunci utama untuk mengatasi masalah kerusuhan suporter. Sanksi yang tegas, dipadukan dengan program edukasi yang berkelanjutan, perlu diterapkan agar efek jera benar-benar tercipta. Ke depan, sepak bola Indonesia harus mampu menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi semua pihak, tanpa bayang-bayang kerusuhan. Perlu adanya kolaborasi antara PSSI, klub, aparat keamanan, dan suporter itu sendiri untuk menciptakan budaya suporter yang lebih beradab.





