Tragedi Istanbul: Inter Milan Gagal Raih Liga Champions

Redaksi

Tragedi Istanbul: Inter Milan Gagal Raih Liga Champions
Sumber: Detik.com

Kekalahan telak Inter Milan di final Liga Champions 2025 melawan Paris Saint-Germain (PSG) dengan skor 0-5 telah mengejutkan dunia sepak bola. Hasil ini mencatatkan rekor baru sebagai kekalahan terbesar di final Liga Champions sepanjang sejarah, melampaui semua hasil pertandingan sebelumnya.

Berbagai analisa pun bermunculan, mencoba mengurai penyebab kegagalan Inter Milan yang begitu dramatis. Salah satu yang menarik perhatian adalah komentar dari pelatih legendaris Italia, Arrigo Sacchi.

Arrigo Sacchi: Inter Milan Kehilangan Organisasi dan Kecepatan

Sacchi, yang dikenal akan filosofi sepak bolanya yang menyerang dan berorientasi pada organisasi tim, menilai Inter Milan tampil bak kapal tanpa nahkoda di final tersebut.

Menurutnya, bukan hanya satu atau dua pemain yang menjadi penyebab kekalahan. Inter Milan secara keseluruhan kehilangan harmoni dan pergerakan yang terorganisir, elemen kunci dalam meraih kesuksesan di level tertinggi.

Dalam wawancaranya dengan Gazzetta dello Sport, Sacchi menyoroti kurangnya kecepatan dan ketepatan operan tim asuhan Simone Inzaghi. Ia menggambarkan PSG sebagai tim yang bergerak dengan kecepatan tinggi, sementara Inter Milan terlihat lamban dan kesulitan mengikuti tempo permainan.

Perbedaan Kecepatan dan Organisasi Menjadi Penentu

Sacchi membandingkan kecepatan permainan kedua tim sebagai faktor utama perbedaan performa.

PSG, menurutnya, bermain dengan kecepatan luar biasa, sementara Inter Milan tampak berjalan di tempat. Hal ini membuat Nerazzurri kesulitan untuk mengembangkan serangan dan menciptakan peluang berbahaya ke gawang Gianluigi Donnarumma.

Keunggulan PSG dalam hal kecepatan dan organisasi permainan membuat mereka mampu menguasai jalannya pertandingan dan mencetak gol dengan mudah.

Kemampuan PSG untuk mengalirkan bola dengan cepat dan akurat membuat pertahanan Inter kewalahan dan tak mampu bereaksi.

PSG Mengontrol Permainan, Inter Gagal Bereaksi

Sacchi memuji permainan PSG yang terstruktur dan efektif. Mereka mampu mengendalikan tempo permainan dan memaksa Inter Milan untuk terus mengejar.

Hal ini menunjukkan, menurut Sacchi, bagaimana seharusnya sebuah tim bermain di level Eropa. PSG menunjukkan keunggulan taktikal dan mentalitas juara.

Sementara itu, Inter Milan justru terlihat bingung dan tidak tahu bagaimana cara untuk menghadapi tekanan dari PSG. Mereka gagal untuk memberikan respon yang efektif terhadap dominasi PSG.

Sebagai kesimpulan, analisa Sacchi menyoroti kurangnya organisasi dan kecepatan sebagai faktor kunci kekalahan telak Inter Milan. Perbedaan signifikan dalam hal ini menjadi pembeda utama antara kedua tim di final Liga Champions 2025.

Kegagalan Inter Milan untuk mengimbangi kecepatan dan organisasi permainan PSG menjadi pelajaran berharga bagi klub-klub Eropa lainnya untuk terus meningkatkan kualitas permainan mereka di level tertinggi.

Kekalahan ini tentunya akan menjadi bahan evaluasi yang serius bagi Inter Milan untuk menghadapi musim-musim berikutnya dan memperbaiki kekurangan yang ada.

Also Read

Tags

Leave a Comment