Kekalahan telak Inter Milan dari Paris Saint-Germain (PSG) di final Liga Champions 2024/2025 meninggalkan duka mendalam bagi pendukung Nerazzurri. Skor 0-5 menjadi catatan pahit yang menorehkan kekalahan terbesar sepanjang sejarah final kompetisi bergengsi tersebut.
Kekecewaan itu terasa semakin kentara saat tim Inter kembali ke Milan. Suasana kedatangan mereka di Bandara Malpensa terbilang sepi dan jauh dari sambutan meriah para penggemar.
Kepulangan yang Sepi
Laporan dari La Gazzetta dello Sport dan Football Italia menggambarkan suasana sunyi di bandara. Hanya ada satu orang pendukung yang tampak menyambut kedatangan para pemain Inter.
Marco, sang pendukung setia, menjadi satu-satunya yang hadir di tengah petugas bandara dan kepolisian. Ia menyaksikan para pemain Inter, yang tampak lesu dan menunduk, turun dari pesawat.
Keheningan melanda bandara, kontras dengan euforia yang biasanya mewarnai kepulangan tim setelah pertandingan besar. Kegagalan meraih gelar Liga Champions jelas sangat mengecewakan bagi para pendukung Inter.
Reaksi Pemain dan Pelatih
Hanya Francesco Acerbi yang merespon kehadiran Marco dengan lambaian tangan. Sementara itu, Marcus Thuram dan Simone Inzaghi, meskipun mendapat sapaan dari beberapa pendukung yang datang belakangan, tidak memberikan respon.
Suasana hati para pemain Inter tampak tertekan. Kekalahan telak ini tentu menjadi pukulan berat bagi mereka yang telah berjuang keras sepanjang musim.
Kegagalan meraih gelar Liga Champions juga menandai berakhirnya mimpi treble Inter Milan musim ini. Ambisi untuk meraih tiga gelar utama—Serie A, Coppa Italia, dan Liga Champions—akhirnya kandas.
Analisa Kekalahan Telak
Kekalahan 0-5 dari PSG merupakan pukulan telak bagi Inter. Hasil ini menjadi kekalahan terbesar di final Liga Champions sejak kompetisi ini pertama kali digelar pada musim 1955-1956.
Pertandingan di Allianz Arena menjadi bukti dominasi PSG atas Inter. Kegagalan Inter dalam memanfaatkan peluang dan solidnya pertahanan PSG menjadi faktor kunci dibalik kekalahan ini.
Analisis lebih lanjut tentu dibutuhkan untuk memahami penyebab kekalahan telak ini. Faktor kelelahan, strategi yang kurang tepat, atau kualitas pemain PSG yang lebih unggul, bisa menjadi beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan.
Kejadian ini tentu menjadi bahan evaluasi bagi Inter Milan untuk menatap musim depan. Mereka harus mampu bangkit dari kegagalan ini dan mempersiapkan diri dengan lebih baik untuk menghadapi kompetisi-kompetisi mendatang.
Meskipun kekecewaan mendalam menyelimuti Inter Milan dan para pendukungnya, perjalanan panjang masih menanti di masa depan. Mereka diharapkan dapat belajar dari kegagalan ini dan kembali lebih kuat.
Reaksi suporter yang minim saat penyambutan di bandara bisa jadi cerminan dari kekecewaan yang dalam. Namun, dukungan dan kesetiaan para penggemar akan tetap menjadi kekuatan bagi Inter dalam upaya mereka untuk kembali berjaya.
Ke depannya, Inter Milan perlu melakukan evaluasi menyeluruh. Baik dari segi strategi, performa pemain, maupun mental tim, perlu diperbaiki untuk meraih kesuksesan di musim-musim mendatang. Semoga kegagalan ini menjadi pelajaran berharga bagi Inter Milan untuk bangkit kembali dan meraih prestasi gemilang.





