Penunjukan Patrick Kluivert sebagai pelatih Timnas Indonesia pada 8 Januari 2024 memicu beragam diskusi. Salah satu pertanyaan yang muncul adalah mengenai kemampuan taktikal Kluivert. Perdebatan ini menarik nama besar Carlo Ancelotti, pelatih legendaris dengan segudang prestasi, ke dalam percakapan.
Arya Sinulingga, anggota Exco PSSI, menyinggung Ancelotti saat membahas kemampuan Kluivert. Ia membandingkan keduanya, menekankan kekuatan Ancelotti bukan semata pada taktik, melainkan pendekatan emosionalnya terhadap pemain.
Ancelotti: Lebih dari Sekadar Taktik?
Pandangan yang berkembang menyebut Ancelotti sebagai pelatih yang “miskin taktik,” lebih bergantung pada kualitas individu pemainnya ketimbang strategi rumit. Namun, anggapan ini perlu dikaji lebih dalam. Meskipun Ancelotti dikenal karena kemampuan manajerialnya yang luar biasa, menyebutnya hanya mengandalkan kualitas bintang saja terlalu menyederhanakan karier gemilangnya.
Ancelotti memang jenius dalam mengelola ruang ganti. Keahliannya dalam membangun harmoni tim, pendekatan personal yang hangat, dan kemampuannya menciptakan suasana positif adalah aset berharga yang membantunya meraih sukses. Kisah jamuan makannya yang terkenal, seperti yang pernah dialami David Beckham di AC Milan, menjadi bukti nyata pendekatan personalnya yang efektif.
Keputusan Taktik Krusial Ancelotti
Namun, mengabaikan kemampuan taktik Ancelotti sama saja mengabaikan sejumlah keputusan krusial yang menentukan hasil pertandingan. Final Liga Champions 2003 antara AC Milan dan Juventus menjadi contoh yang tepat.
Ancelotti merespon perubahan taktik Marcello Lippi dengan brilian. Lippi menempatkan Gianluca Zambrotta di sayap kiri, memaksa Paolo Montero, seorang bek tengah, mengisi posisi bek kiri. Ancelotti memanfaatkan kelemahan ini dengan menginstruksikan Andriy Shevchenko untuk sering bertukar posisi dengan Rui Costa, memanfaatkan kecepatan dan agresivitas Shevchenko untuk menekan Montero.
Memahami Kesuksesan Ancelotti: Kombinasi yang Sempurna
Meskipun Milan akhirnya menang lewat adu penalti, keputusan taktik Ancelotti dalam final tersebut patut diapresiasi. Bahkan, andai Gianluigi Buffon tidak melakukan penyelamatan spektakuler terhadap sundulan Filippo Inzaghi, kemenangan Milan akan lebih meyakinkan dan semakin menegaskan ketajaman strategi Ancelotti.
Kesimpulannya, menyebut Ancelotti “miskin taktik” adalah reduksionisme. Kesuksesan Ancelotti adalah hasil kombinasi yang sempurna antara manajerial yang luar biasa, pendekatan personal yang efektif, dan kemampuan taktik yang cerdas. Ancelotti bukan hanya jago diplomasi “meja makan”, tetapi juga seorang ahli strategi yang pandai membaca pertandingan dan membuat keputusan tepat di momen krusial. Kemampuan ini yang membuatnya menjadi salah satu pelatih paling sukses sepanjang sejarah sepak bola. Membandingkan pelatih lain dengan Ancelotti, dengan segala nuansa pendekatannya, perlu mempertimbangkan keseluruhan paket kemampuan, bukan hanya satu aspek saja.





