Piala Dunia Antarklub FIFA 2025 di Amerika Serikat menyajikan beragam cerita menarik, dari pengalaman menyenangkan para pemain hingga tantangan yang dihadapi penyelenggara. Khvicha Kvaratskhelia dari PSG misalnya, sangat terkesan dengan keindahan Amerika Serikat selama kunjungan pertamanya. Ia bahkan membayangkan akan tinggal di sana setelah pensiun.
Namun, turnamen ini juga diwarnai dengan kejutan di lapangan. PSG, tim unggulan, mengalami kekalahan mengejutkan dari Botafogo, sebuah klub Brasil yang posisinya relatif lebih rendah di liga domestik mereka. Hasil ini menghambat langkah PSG menuju babak berikutnya dan menimbulkan pertanyaan tentang daya tarik turnamen ini.
Pengalaman Manis dan Pahit di Negeri Paman Sam
Bagi Khvicha Kvaratskhelia, petualangan di Piala Dunia Antarklub 2025 lebih dari sekadar pertandingan sepak bola. Ia menikmati waktu luangnya dengan bermain bowling dan mini golf. Keindahan Southern California meninggalkan kesan mendalam baginya.
Di sisi lain, kekalahan PSG atas Botafogo menjadi catatan pahit dalam turnamen ini. Kekalahan ini memutus rentetan kemenangan PSG dan membuat peluang mereka untuk lolos ke babak selanjutnya menjadi sulit. PSG kini harus menang atas Seattle Sounders untuk mengamankan posisi mereka.
Minimnya Penonton Mengusik Gelaran Aksi Sepakbola Dunia
Piala Dunia Antarklub, seharusnya menjadi kompetisi bergengsi dengan daya tarik global. Namun, kenyataannya, turnamen ini masih menghadapi tantangan dalam hal jumlah penonton. Rata-rata penonton hanya 36.433 per pertandingan, dengan banyak kursi yang kosong.
Ada beberapa pertandingan yang berhasil menarik lebih dari 50.000 penonton, namun beberapa laga lainnya hanya dihadiri kurang dari 5.300 penonton. Hal ini menjadi indikasi bahwa daya tarik Piala Dunia Antarklub belum sesuai harapan.
FIFA sendiri telah menurunkan harga tiket untuk meningkatkan penjualan, namun upaya ini tampaknya belum cukup efektif. Rendahnya minat penonton menunjukkan adanya masalah yang lebih besar yang perlu diatasi oleh FIFA.
Enzo Maresca, pelatih Chelsea, mengungkapkan kekecewaannya terhadap atmosfer yang kurang meriah dalam pertandingan yang dipimpinnya. Ia menilai, sebuah turnamen dunia seharusnya lebih menarik dan mampu menggaet lebih banyak penonton.
Cuaca Panas dan Lembap Menambah Tantangan
Selain rendahnya jumlah penonton, cuaca panas dan lembap di Amerika Serikat juga menjadi tantangan tersendiri bagi para pemain. Suhu yang tinggi dan kelembapan yang cukup besar mempengaruhi performa pemain di lapangan.
Real Madrid, misalnya, mengalami kesulitan dalam pertandingan melawan Al Hilal di tengah cuaca yang sangat panas. Kondisi cuaca ekstrem juga dirasakan oleh para pemain Atlético Madrid di Rose Bowl.
Marcos Llorente dari Atlético Madrid mengungkapkan betapa sulitnya bermain di tengah panas terik tersebut. Ia merasakan dampak cuaca pada kondisi fisiknya, terutama pada kaki dan kakinya.
Para pemain Eropa yang terbiasa dengan iklim yang berbeda mengalami kesulitan beradaptasi. Cuaca panas menjadi faktor penting yang perlu diperhitungkan dalam turnamen ini.
Namun, cuaca panas ini juga dilihat sebagai kesempatan untuk mempersiapkan diri menghadapi Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Utara. Para pemain menganggap pengalaman ini sebagai simulasi yang berharga untuk menghadapi tantangan cuaca, perjalanan, dan atmosfer yang akan mereka hadapi di Piala Dunia mendatang.
Kesimpulannya, Piala Dunia Antarklub 2025 memberikan pelajaran berharga bagi FIFA. Selain memperbaiki daya tarik turnamen untuk menarik penonton, pengalaman ini juga bisa menjadi pembelajaran untuk lebih memperhatikan kondisi lingkungan dan cuaca. Suksesnya turnamen ini bergantung pada berbagai faktor, dan tidak hanya pada kualitas permainan di lapangan saja.





