Kisah Imran Nahumarury: Kejayaan Tercoreng, Dari Nol Hingga Puncak

Redaksi

Kisah Imran Nahumarury: Kejayaan Tercoreng, Dari Nol Hingga Puncak
Sumber: Bola.com

Karier Imran Nahumarury sebagai pelatih sepak bola Indonesia mengalami pasang surut yang dramatis. Setelah meraih pujian atas keberhasilannya membawa Malut United, klub promosi, ke peringkat tiga BRI Liga 1 2024/2025, sebuah skandal mengejutkan mengakhiri kiprahnya.

Kontraknya yang diperpanjang hingga Liga 1 2025/2026 pada April 2025, tiba-tiba berakhir pada Juni 2025. Malut United menuduh Imran dan Direktur Teknik, Yeyen Tumena, melakukan pelanggaran berat berupa penerimaan uang dari pemain.

Awal Karier Imran Nahumarury

Imran Nahumarury memulai karier kepelatihannya setelah pensiun sebagai pemain sepak bola pada tahun 2008.

Ia menangani beberapa sekolah sepak bola dan akademi, termasuk Tulehu Putra dan ASIOP Apacinti, sebelum mendapatkan kesempatan sebagai asisten pelatih PSIS Semarang pada tahun 2015.

Ia menjabat sebagai asisten pelatih hingga tahun 2021. Pada tahun yang sama, Imran ditunjuk sebagai pelatih caretaker PSIS Semarang.

Sebagai caretaker, ia memimpin PSIS dalam lima pertandingan Liga 1 2021/2022, menorehkan dua kemenangan, satu hasil imbang, dan dua kekalahan.

Karena belum memiliki lisensi AFC Pro, Imran tak bisa melanjutkan tugasnya di PSIS dan digantikan oleh Dragan Djukanovic.

Perjalanan Berliku di Liga 2 dan Tiket ke Liga 1

Setelah PSIS, Imran bergabung dengan PSIM Yogyakarta di Liga 2.

Namun, masa baktinya di PSIM hanya berlangsung tiga pertandingan pada musim 2022/2023, diakhiri karena tiga hasil imbang beruntun.

Pada musim 2023/2024, Imran mendapatkan kesempatan melatih Malut United.

Ia berhasil membawa Malut United, yang mengakuisisi Putra Delta Sidoarjo, menduduki peringkat ketiga Liga 2 dan promosi ke BRI Liga 1 2024/2025.

Sukses di BRI Liga 1 dan Akhir Karier yang Mengejutkan

Di BRI Liga 1 2024/2025, Imran menunjukkan kemampuannya dalam membimbing Malut United.

Setelah tampil kurang memuaskan di putaran pertama, Malut United berubah drastis di putaran kedua.

Dengan sepuluh kemenangan, lima hasil imbang, dan dua kekalahan di putaran kedua, Malut United berada di posisi tiga besar klasemen akhir.

Prestasi ini membuat Imran mendapatkan penghargaan sebagai pelatih terbaik untuk periode Maret 2025.

Namun, semua berubah setelah Malut United memperoleh informasi tentang dugaan pelanggaran berat yang dilakukan Imran dan Yeyen Tumena.

Keduanya dipecat karena dituduh menerima uang dari pemain.

Pihak Bola.com telah berupaya menghubungi Imran untuk konfirmasi, namun belum mendapatkan tanggapan.

Kasus ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya integritas dan etika di dunia sepak bola profesional. Kisah Imran Nahumarury menjadi bukti bahwa karier, segemilang apapun, bisa berakhir secara tiba-tiba akibat pelanggaran etika.

Also Read

Tags

Leave a Comment