Paris Saint-Germain (PSG) meraih kemenangan gemilang di final Liga Champions 2024-2025. Mereka berhasil mengalahkan Inter Milan dengan skor telak 5-0 di Allianz Arena, Munich.
Kemenangan ini dinilai legenda sepak bola Italia, Arrigo Sacchi, sebagai sebuah kemenangan untuk sepak bola itu sendiri. Sacchi bahkan menyebut Inter Milan tampil takut dan kehilangan arah di lapangan.
PSG Membantai Inter Milan di Final Liga Champions
Gol-gol Achraf Hakimi (12′), Desire Doue (20′, 63′), Khvicha Kvaratskhelia (73′), dan Senny Mayulu (86′) memastikan PSG mengangkat trofi Liga Champions pertama mereka.
Kemenangan dengan selisih lima gol ini merupakan rekor baru dalam sejarah final Liga Champions, melampaui kemenangan 4-0 AC Milan atas Steaua Bucharest di final Piala Champions 1989.
Dominasi PSG terlihat jelas di semua lini permainan. Inter Milan tampak kesulitan mengembangkan permainan dan tak mampu membendung gempuran tim asal Prancis tersebut.
Arrigo Sacchi: Kemenangan Sepak Bola yang Sempurna
Arrigo Sacchi, melalui kolomnya di *La Gazzetta dello Sport*, memuji penampilan PSG yang luar biasa.
Ia menyebut permainan PSG sebagai manifestasi dari organisasi, manuver harmonis, dan keindahan dalam kecepatan, dribel, operan, dan kombinasi satu-dua yang apik.
Sacchi mengatakan Inter Milan hanya bisa memberikan tepuk tangan dan tunduk kepada keahlian lawan.
Keunggulan PSG, menurut Sacchi, terletak pada pemahaman mereka yang sempurna tentang strategi permainan, sementara Inter Milan terlihat takut dan kehilangan arah.
Analisis Kritis Terhadap Performa Inter Milan
Sacchi mengkritik penampilan Inter Milan yang mengalami kekalahan telak di final Liga Champions ketujuh mereka.
Ia menilai Inter Milan asuhan Simone Inzaghi kehilangan arah ketika menghadapi tekanan konstan dari PSG besutan Luis Enrique.
Sacchi menekankan bahwa kemenangan telak PSG menunjukkan pentingnya kolektivitas dalam sepak bola.
PSG, menurut Sacchi, menampilkan pressing terstruktur yang membuat Inter Milan kesulitan membangun serangan dari belakang.
Kehilangan Kylian Mbappe ke Real Madrid di musim panas 2024 tampaknya justru memaksa PSG untuk lebih mengandalkan permainan kolektif.
Sacchi mengakui bahwa kekuatan fisik juga berperan, namun kolektivitas menjadi kunci keberhasilan PSG.
Inter Milan harus menutup musim 2024-2025 tanpa gelar, setelah sebelumnya tersingkir di semifinal Coppa Italia dan gagal mempertahankan Scudetto.
Meskipun demikian, Sacchi mengingatkan pentingnya mengevaluasi kesalahan yang terjadi tanpa melupakan pencapaian positif yang telah diraih Inter Milan sepanjang musim.
Meskipun Inter Milan mengalami musim yang mengecewakan, kemenangan PSG yang spektakuler menjadi bukti nyata pentingnya kerja sama tim dan strategi yang matang dalam sepak bola. Kekalahan Inter Milan juga menjadi pelajaran berharga bagi tim lain untuk lebih mempersiapkan diri menghadapi kompetisi di level tertinggi.





