Kapten PSM Yuran Fernandes: Hukuman 12 Bulan, Liga 1 Kritik Keras

Redaksi

Kapten PSM Yuran Fernandes: Hukuman 12 Bulan, Liga 1 Kritik Keras
Sumber: Detik.com

Kapten PSM Makassar, Yuran Fernandes, menerima hukuman larangan beraktivitas di sepak bola Indonesia selama 12 bulan. Sanksi ini dijatuhkan oleh Komite Disiplin PSSI menyusul kritik pedasnya terhadap sepak bola Indonesia.

PSM Makassar mengumumkan putusan tersebut melalui akun Instagram resmi mereka. Klub berjuluk Juku Eja itu menyatakan sanksi tersebut berdasarkan Pasal 59 ayat 2 jo Pasal 141 Kode Disiplin PSSI Tahun 2013.

Hukuman Berat Atas Kritik Yuran Fernandes

Selain larangan bermain selama setahun, Yuran juga didenda Rp 25.000.000. PSM menambahkan bahwa pengulangan pelanggaran serupa akan berujung pada hukuman yang lebih berat.

Putusan ini tentu menjadi pukulan telak bagi Yuran dan PSM Makassar. Kehilangan kapten andalan mereka selama satu tahun akan berdampak signifikan bagi performa tim di BRI Liga 1 2024/2025.

Kronologi Kritik dan Klarifikasi Yuran

Kritik Yuran bermula setelah kekalahan PSM Makassar dari PSS Sleman dengan skor 1-3. Dalam unggahan Instagram Story-nya, ia meluapkan kekecewaan dengan kalimat-kalimat keras yang menyoroti kondisi sepak bola Indonesia.

Unggahan tersebut, meski sempat dihapus, telah tersebar luas. Yuran kemudian mengeluarkan klarifikasi dan permohonan maaf.

Dalam klarifikasinya, Yuran menjelaskan bahwa unggahannya murni dilatarbelakangi emosi pasca pertandingan. Ia menekankan bahwa kritiknya ditujukan pada sepak bola Indonesia, bukan negara Indonesia sendiri.

Yuran juga menyatakan harapannya agar sepak bola Indonesia dapat berkembang dan menjadi lebih baik. Ia mengaku unggahannya merupakan bentuk kepedulian dan harapannya terhadap PSSI dan Liga Indonesia Baru (LIB).

Kepemimpinan Wasit Jadi Sorotan

Pertandingan PSS Sleman vs PSM Makassar memang penuh kontroversi. Kepemimpinan wasit, Nendi Rohaendi, menjadi sorotan utama.

Beberapa keputusan wasit, terutama yang melibatkan teknologi VAR, menuai protes dari pihak PSM. Contohnya, gol Yuran dianulir karena dianggap mendorong lawan, padahal kejadian serupa oleh pemain PSS dibiarkan begitu saja.

Gol PSS Sleman juga diprotes karena dianggap terjadi setelah pelanggaran terhadap pemain PSM. Pelatih PSM, Bernardo Tavares, juga ikut menyoroti kepemimpinan wasit tersebut seusai pertandingan.

Hukuman yang dijatuhkan kepada Yuran Fernandes menimbulkan perdebatan di kalangan pecinta sepak bola Indonesia. Banyak yang menilai hukuman tersebut terlalu berat, sementara yang lain berpendapat bahwa pemain harus bertanggung jawab atas pernyataannya.

Kasus ini kembali menyoroti pentingnya menjaga etika dan profesionalisme dalam dunia sepak bola. Baik pemain maupun ofisial harus dapat mengekspresikan kritik dengan cara yang konstruktif dan tidak merugikan pihak lain.

Ke depan, diharapkan PSSI dapat lebih bijak dalam menjatuhkan sanksi, dan pemain dapat lebih dewasa dalam menyampaikan kritiknya. Sepak bola Indonesia perlu terus berbenah agar dapat berkembang dan lebih baik lagi di masa mendatang.

Also Read

Tags

Leave a Comment