PSM Makassar menelan kekalahan 1-3 dari PSS Sleman pada laga pekan ke-31 Liga 1 2024-2025. Kekalahan ini menjadi yang ketiga beruntun bagi tim Juku Eja, memicu reaksi keras dari pelatih Bernardo Tavares terkait kinerja wasit dan penggunaan VAR. Kekecewaan Tavares bukan tanpa alasan, beberapa keputusan krusial dinilai merugikan timnya.
Pelatih asal Portugal ini menyampaikan selamat kepada PSS Sleman atas kemenangannya. Namun, ia langsung menyoroti beberapa keputusan wasit yang menurutnya sangat berpengaruh terhadap jalannya pertandingan dan hasil akhir.
Kekecewaan Bernardo Tavares atas Keputusan Wasit
Tavares mempertanyakan beberapa keputusan wasit, terutama terkait dianulirnya satu gol PSM dan beberapa insiden pelanggaran yang tidak diberikan kepada timnya.
Ia menilai, keputusan wasit dan penggunaan VAR dalam pertandingan tersebut tidak adil dan merugikan PSM Makassar.
Anulir Gol PSM dan Pelanggaran yang Tak Diakui
Gol Yuran Fernandes pada menit ke-12 dianulir wasit karena diduga ada dorongan terhadap pemain PSS Sleman.
Namun, situasi serupa terjadi pada menit ke-40. Gelandang PSM, Fahrul Aditia, terlihat didorong di kotak penalti oleh pemain PSS, namun wasit mengabaikannya dan tidak memeriksa VAR.
Ketimpangan penerapan aturan ini menjadi sorotan utama Tavares.
Gol Ketiga PSS Sleman dan Ancaman Tavares
Tavares juga menyoroti gol ketiga PSS Sleman yang menurutnya diawali pelanggaran Gustavo Tocantins terhadap Syahrul Lasinari.
Wasit tetap membiarkan permainan berlanjut hingga PSS mencetak gol, memicu kemarahan Tavares.
Kekecewaan yang mendalam membuat Tavares bahkan mengeluarkan ancaman akan menurunkan tim U18 jika ketidakadilan dalam memimpin pertandingan terus berlanjut.
Ia juga menyoroti jadwal padat dan perjalanan jauh yang dijalani pemain PSM, mengatakan bahwa emosi pemain meningkat akibat keputusan wasit yang dinilai kontroversial.
Menurutnya, fokus tim lebih tertuju pada keputusan wasit daripada performa di lapangan.
Ia merasa, konsentrasi tim terpecah karena harus terus memperhatikan kinerja wasit sepanjang laga.
Tavares menilai, hal ini mempengaruhi performa tim di babak kedua dan berujung pada kekalahan.
Kekecewaan Tavares mewakili sentimen banyak pihak yang menilai pentingnya konsistensi dan keadilan dalam kepemimpinan wasit di Liga 1.
Pernyataan tegas Tavares menjadi sorotan dan diharapkan dapat menjadi perhatian serius bagi pihak terkait agar memastikan kualitas perwasitan di Liga 1 semakin baik.
Kejadian ini tentunya menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pihak, baik dari wasit, penggunaan VAR, maupun manajemen liga untuk memastikan kompetisi berjalan fair dan sportif.





