Pemain Timnas Indonesia, Saddil Ramdani, resmi bergabung dengan Persib Bandung. Pengumuman ini disampaikan manajemen Persib melalui videotron di Jalan Ir. H. Juanda, Bandung, pada Rabu, 11 Juni 2025 pukul 18.30 WIB. Saddil menjadi rekrutan pertama Persib untuk musim 2025/2026.
Kepindahan Saddil ke Persib menandai kembalinya ia ke Indonesia setelah berkarier di Liga Malaysia bersama Sabah FC. Perjalanan kariernya merupakan kisah inspiratif dari seorang pemuda yang berjuang keras untuk meraih mimpinya menjadi pesepakbola profesional.
Perjalanan Karier Saddil Ramdani dari Roha hingga Persib
Lahir di Roha, sebuah kota kecil di pesisir Selat Buton, Sulawesi Tenggara, Saddil menunjukkan bakat sepak bolanya sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Ia sering bermain dengan anak-anak yang lebih tua darinya di wilayah Tampo, dekat rumahnya. Meskipun ibunya, Wa Ode Dai, sempat melarang Saddil bermain sepak bola terlalu dini karena usianya yang masih kecil, kecintaannya pada sepak bola tak terbendung.
Setelah kelas 1 SMP Bonea, Saddil kembali aktif mengikuti kejuaraan sepak bola. Pada tahun 2012, ia mewakili sekolahnya dalam Liga Pendidikan Indonesia (LPI). Setahun kemudian, ia kembali berlaga di LPI tingkat Kabupaten Muna bersama SMP Waara. Kesempatan emas datang ketika ia dipanggil untuk seleksi Timnas U-16 di Bandung.
Sayangnya, Saddil tidak mendapat rekomendasi dari pelatih di Muna. Kegagalan ini membuat Saddil sangat terpukul. Wa Ode Dai, yang sangat mendukung karier anaknya, berusaha mencari tahu penyebabnya dan bahkan mendatangi Diknas Kabupaten Muna, tetapi jawaban yang diterima tidak memuaskan.
Kekecewaan Saddil dan upaya gigih ibunya menggambarkan betapa besarnya tekad mereka. Wa Ode Dai berjanji untuk terus mendukung Saddil selama ia masih sehat. Dukungan ini menjadi kekuatan besar bagi Saddil untuk terus berjuang.
Langkah Menuju Kesuksesan
Demi mewujudkan mimpi Saddil, keluarganya pindah ke Kendari. Dengan meminjam uang dari koperasi untuk biaya hidup dan sekolah, mereka memulai kehidupan baru. Di Kendari, Saddil mendapat kesempatan berharga untuk bergabung dengan Sekolah Sepak Bola Aji Santoso Internasional Football Academy (ASIFA).
Peran dua pelatihnya, Asrul dan Abdul Razak, yang memiliki koneksi dengan pelatih Aji Santoso, sangat penting dalam perjalanan Saddil. Namun, kendala keuangan kembali muncul ketika Saddil harus berangkat ke Malang untuk bergabung dengan ASIFA. Wa Ode Dai, dengan penuh pengorbanan, kembali meminjam uang Rp 2,5 juta dari koperasi agar Saddil dapat berangkat.
Setelah bergabung dengan ASIFA, Saddil hanya butuh satu tahun untuk mendapat panggilan Timnas Indonesia. Kisah ini membuktikan bahwa kerja keras, dukungan keluarga, dan kesempatan yang tepat dapat membawa seseorang meraih kesuksesan. Dari seorang anak yang bermain sepak bola di lapangan kecil di Roha, Saddil kini menjelma menjadi bintang sepak bola Indonesia.
Perjalanan Saddil Ramdani dari seorang anak yang berlatih di lapangan tanah hingga menjadi pemain bintang di Persib merupakan bukti nyata bahwa mimpi dapat terwujud dengan kerja keras, tekad yang kuat, dan dukungan dari orang-orang tersayang. Semoga keberhasilannya ini dapat menginspirasi banyak pemuda Indonesia untuk mengejar mimpi mereka.
Kontributor: M. Faqih




