Paris Saint-Germain (PSG) menorehkan sejarah baru di dunia sepak bola. Kemenangan dramatis 5-0 atas Inter Milan di final Liga Champions 2024-2025 membuat mereka mengangkat trofi Si Kuping Besar untuk pertama kalinya.
Kemenangan telak ini bahkan melampaui rekor kemenangan terbesar di final Liga Champions sebelumnya. Arrigo Sacchi, pelatih legendaris AC Milan, pun memberikan komentarnya yang menarik terkait pertandingan tersebut.
Dominasi PSG: Sebuah Kemenangan untuk Sepak Bola
Sacchi menyebut kemenangan PSG sebagai “kemenangan untuk sepak bola itu sendiri”.
Menurutnya, permainan PSG merupakan perpaduan harmonis antara organisasi tim, manuver cerdas, dan keindahan permainan yang ditampilkan melalui kecepatan, dribel, operan, dan kombinasi satu-dua yang apik.
Dominasi PSG di semua lini membuat Inter Milan tak berdaya. Mereka hanya mampu menyaksikan kehebatan tim lawan.
Inter Milan yang Tak Berdaya Hadapi Tekanan PSG
Sacchi mengkritik penampilan Inter Milan yang tampak kehilangan arah ketika menghadapi tekanan konstan dari PSG.
Pelatih legendaris Italia ini menilai Inter terlihat takut dan tidak tahu bagaimana harus bereaksi terhadap permainan cepat dan terstruktur PSG.
Hasil akhir 5-0, menurut Sacchi, menjadi bukti nyata perbedaan kualitas dan mentalitas kedua tim.
Belum pernah ada final Liga Champions yang berakhir dengan selisih gol sebesar itu.
Kolektivitas PSG: Kekuatan di Balik Kemenangan
Sacchi menekankan pentingnya kolektivitas dalam meraih kemenangan, sebuah pelajaran berharga yang ditunjukkan PSG.
Meski kehilangan Kylian Mbappé yang telah bergabung dengan Real Madrid, PSG justru mampu menemukan sinergi dan kekuatan tim yang luar biasa.
Strategi pressing terstruktur PSG membuat Inter kesulitan membangun serangan dari belakang. Hal ini menjadi faktor kunci kesuksesan PSG.
Sacchi pun menyoroti bagaimana PSG, di bawah arahan Luis Enrique, menunjukkan bahwa kerja sama tim lebih penting daripada individu.
Kehilangan Mbappe Tak Menghambat PSG
Kehilangan pemain bintang seperti Mbappé justru memicu PSG untuk bermain lebih kolektif dan solid.
Sacchi sendiri mengaku tak dapat memastikan bagaimana perasaan Mbappé saat ini menyaksikan kesuksesan mantan timnya.
Namun, ia mengakui bahwa perbedaan kekuatan fisik antar pemain juga menjadi faktor penentu dalam laga final tersebut.
Penutup: Evaluasi dan Harapan Masa Depan
Inter Milan harus menutup musim 2024-2025 tanpa meraih gelar juara. Kegagalan di final Liga Champions menambah daftar kekecewaan setelah mereka kalah di semifinal Coppa Italia dan kehilangan Scudetto.
Sacchi menyarankan Inter untuk melakukan evaluasi menyeluruh atas penampilan mereka, khususnya kelelahan yang tampak pada periode akhir musim.
Meski demikian, Sacchi juga mengingatkan agar kegagalan ini tidak dibesar-besarkan. Prestasi Inter sepanjang musim tetap layak diapresiasi.
Kemenangan PSG menjadi bukti nyata bahwa sepak bola modern membutuhkan kerja sama tim yang solid dan strategi yang matang, terlepas dari keberadaan pemain bintang individual.
Pertandingan final ini akan dikenang sebagai salah satu laga final Liga Champions paling berkesan dan menandai lahirnya juara baru yang tampil dengan dominasi luar biasa.





