Chelsea resmi menunjuk Mauricio Pochettino sebagai manajer permanen. Kontrak berdurasi tiga tahun telah disepakati, menandai babak baru bagi klub yang dilanda kekacauan manajerial sepanjang musim ini. Pergantian empat pelatih—Thomas Tuchel, Graham Potter, Bruno Saltor, dan Frank Lampard—menunjukkan betapa buruknya performa Chelsea. Pochettino diharapkan dapat membawa stabilitas dan kesuksesan kembali ke Stamford Bridge.
Pochettino bukanlah wajah baru di Premier League. Pengalamannya melatih Southampton dan Tottenham Hotspur menjadi bekal berharga. Kepindahannya ke Chelsea, rival sekota Tottenham, menambah dinamika persaingan di liga. Ia bukan satu-satunya pelatih yang pernah berpindah ke klub rival; beberapa pelatih top Eropa lainnya pun pernah melakukan hal serupa.
Lima Pelatih Top Eropa yang Berpindah ke Klub Rival
Artikel ini akan mengulas lima pelatih sepak bola ternama yang pernah membuat keputusan berani dengan bergabung ke klub rival di liga top Eropa. Keputusan-keputusan ini seringkali menimbulkan kontroversi dan menarik perhatian publik, sekaligus menunjukkan ambisi dan tantangan dalam dunia kepelatihan.
Jose Mourinho: Sang Spesialis “Belot”
Mourinho dikenal dengan rekam jejaknya yang kontroversial, termasuk keputusannya berpindah ke klub rival. Ia pernah menjadi asisten pelatih di Barcelona sebelum akhirnya melatih Porto, Chelsea, Real Madrid, dan Tottenham Hotspur.
Setelah sukses besar bersama Inter Milan, Mourinho kemudian melatih Real Madrid, rival abadi Barcelona. Gerakan ini mengejutkan banyak pihak, tetapi menjadi bukti ambisinya untuk menaklukkan tantangan terbesar. Kemudian, kepindahannya ke Tottenham, rival Chelsea, semakin mengukuhkan reputasinya sebagai pelatih yang tidak ragu untuk berganti klub, bahkan jika itu berarti bergabung dengan musuh bebuyutan.
Harry Redknapp: Kisah Dramatis di Portsmouth dan Southampton
Redknapp mengalami situasi unik di Portsmouth dan Southampton. Kekecewaannya dengan pendukung Portsmouth yang kritis membuatnya pindah ke Southampton, rival sekota, dalam waktu singkat.
Namun, tak lama kemudian, ia kembali lagi ke Portsmouth setelah beberapa hari di Southampton. Keputusan ini mengejutkan, tetapi Redknapp kemudian berhasil membawa Portsmouth meraih kesuksesan, termasuk memenangkan Piala FA.
Brian Clough: Dari Derby County ke Nottingham Forest
Persaingan antara Derby County dan Nottingham Forest begitu lekat dengan nama Brian Clough. Setelah meninggalkan Derby County, Clough sempat melatih Brighton dan Leeds United sebelum akhirnya bergabung dengan Nottingham Forest.
Kepindahan ini memicu kemarahan pendukung Derby. Ironisnya, Clough justru mencapai puncak kesuksesan bersama Nottingham Forest, memenangkan Piala Champions dua kali berturut-turut.
Sven-Goran Eriksson: Perjalanan dari AS Roma ke Lazio
Eriksson menikmati kesuksesan awal kariernya di Gothenburg dan Benfica. Namun, pengalamannya di AS Roma kurang memuaskan.
Setelah sepuluh tahun meninggalkan Roma, ia menerima tawaran untuk melatih Lazio, rival sekota. Di Lazio, ia meraih berbagai gelar bergengsi, termasuk Scudetto, puncak prestasi dalam sepak bola Italia.
Maurizio Sarri: Dari Napoli ke Juventus, lalu ke Lazio
Sarri menikmati popularitas tinggi setelah sukses melatih Napoli. Popularitasnya ini membawanya ke Juventus, klub rival Napoli.
Meski berhasil membawa Juventus meraih gelar liga, Sarri dipecat karena gagal di Liga Champions. Ia kemudian melanjutkan kariernya di Lazio, rival Juventus, semakin menegaskan tren pelatih berpindah ke klub rival di sepak bola Italia.
Pochettino, dengan pengalamannya yang luas dan jejak langkah para pelatih ternama di atas, kini menghadapi tantangan besar untuk membawa Chelsea kembali ke jalur kemenangan. Apakah ia akan mengikuti jejak para pendahulunya yang sukses di klub rival, atau justru akan menciptakan kisah suksesnya sendiri di Stamford Bridge, hanya waktu yang dapat menjawabnya. Masa depan Chelsea kini ada di tangannya.





