Paris Saint-Germain (PSG) meraih kemenangan gemilang 5-0 atas Inter Milan di final Liga Champions 2025. Kemenangan ini dirayakan dengan meriah oleh para pendukung PSG, termasuk sebuah tifo mengharukan yang menarik perhatian banyak pihak, termasuk gelandang Manchester City, Jack Grealish.
Tifo tersebut menampilkan momen emosional Luis Enrique, pelatih PSG, saat menancapkan bendera klub di tengah lapangan. Ia ditemani oleh bayangan mendiang putrinya, Xana, yang meninggal dunia pada 2019 akibat kanker tulang di usia 9 tahun.
Tifo Haru untuk Xana, Putri Luis Enrique
Tifo yang ditampilkan pendukung PSG di Allianz Arena ini bukan sekadar dukungan biasa. Ia merupakan penghormatan mendalam terhadap mendiang Xana, putri Luis Enrique yang selalu mendukung sang ayah dari pinggir lapangan.
Gambar Xana bersama Enrique yang tergambar dalam tifo tersebut mengingatkan momen-momen indah di masa lalu ketika Xana masih hidup. Kehadiran Xana dalam tifo ini seakan memberikan kekuatan tambahan bagi tim PSG.
Reaksi haru dari berbagai kalangan terlihat jelas, termasuk dari Jack Grealish yang mengunggahnya ke Instagram story-nya. Ungkapan kekaguman dan kesedihan tampak jelas dari unggahan tersebut.
Reaksi Jack Grealish dan Media Sosial
Jack Grealish, gelandang Manchester City, turut terkesan dengan tifo tersebut. Ia mengungkapkan kekagumannya lewat Instagram Story dengan menambahkan simbol hati dan emoticon sedih.
Unggahan Grealish tersebut menjadi viral dan menunjukkan betapa mengharukannya tifo tersebut bagi banyak orang. Banyak komentar positif dan pujian yang membanjiri media sosial.
Kejadian ini menjadi bukti bahwa sepak bola bukan hanya soal kemenangan dan kekalahan, tetapi juga tentang emosi, kenangan, dan penghormatan. Tifo ini memperlihatkan sisi humanis dari olahraga tersebut.
Momen Istimewa Luis Enrique dan Cita-Citanya
Sebelum pertandingan final, Luis Enrique mengungkapkan kenangannya bersama Xana. Ia bercerita tentang saat-saat membawa Xana ke lapangan saat masih melatih Barcelona.
Enrique berharap bisa mengulangi momen tersebut dengan PSG, meskipun Xana sudah tiada. Ia merasa kehadiran Xana tetap ada, secara spiritual, dan hal itu sangat berarti baginya.
Kemenangan PSG di final Liga Champions semakin terasa istimewa berkat tifo tersebut. Kemenangan ini bukan hanya untuk klub, tetapi juga untuk mengenang Xana dan momen-momen indah bersama Luis Enrique.
Kemenangan dramatis 5-0 atas Inter Milan semakin diwarnai oleh suasana emosional yang ditimbulkan oleh tifo tersebut. Tifo ini menjadi simbol kuat dari kekuatan persatuan dan penghormatan terhadap kenangan indah.
Keberhasilan PSG dalam meraih gelar Liga Champions pertamanya, dibarengi dengan momen mengharukan ini, akan dikenang sebagai momen bersejarah dan emosional dalam dunia sepak bola. Kehadiran Xana dalam bentuk tifo menjadi bukti bahwa cinta dan kenangan abadi.





