Dunia berduka. Senin pagi, kabar duka wafatnya Paus Fransiskus mengejutkan umat Katolik global. Pengumuman resmi dari Vatikan menandai berakhirnya kepemimpinan pemimpin spiritual Gereja Katolik Roma ini, membuka babak baru bagi Gereja dan jutaan umatnya di seluruh dunia. Periode transisi yang dikenal sebagai *sede vacante*, atau “takhta kosong,” pun dimulai.
Masa *sede vacante* ini adalah periode penuh refleksi dan duka cita. Ini juga masa persiapan untuk menyambut Paus baru yang akan meneruskan kepemimpinan Gereja Katolik. Proses transisi ini, kaya akan tradisi dan simbolisme, akan berlangsung hingga terpilihnya pemimpin spiritual baru.
Pengesahan Kematian dan Ritual Kepausan
Camerlengo, Kardinal Kevin Farrell dalam hal ini, memegang peran penting di awal masa *sede vacante*. Tugas utamanya adalah mengkonfirmasi kematian Paus secara resmi.
Selanjutnya, beberapa ritual simbolis dilakukan. Ini termasuk penyegelan apartemen pribadi mendiang Paus di Vatikan.
Cincin Nelayan dan segel timah resmi Paus dimusnahkan. Tradisi ini bertujuan mencegah penyalahgunaan simbol-simbol kepausan tersebut.
Proses ini tidak termasuk otopsi, sesuai dengan kebiasaan yang berlaku.
Persiapan Pemakaman dan Prosesi Berkabung
Camerlengo dan asistennya akan menentukan waktu pemindahan jenazah Paus ke Basilika Santo Petrus. Umat Katolik dari seluruh dunia akan diberi kesempatan untuk memberikan penghormatan terakhir.
Berbeda dengan tradisi sebelumnya, Paus Fransiskus, sesuai permintaannya, akan dimakamkan di Basilika Santa Maria Maggiore di Roma. Basilika ini memiliki makna spiritual yang mendalam baginya.
Jenazah akan dimakamkan dalam peti kayu sederhana. Ini mencerminkan kerendahan hati yang menjadi ciri khas kepemimpinan Paus Fransiskus.
Upacara berkabung akan berlangsung selama sembilan hari. Pemakaman diperkirakan akan diselenggarakan antara hari keempat hingga keenam setelah wafatnya.
Masa Sede Vacante dan Pemilihan Paus Baru
Selama masa *sede vacante*, College of Cardinals mengambil alih sebagian fungsi administratif Gereja. Namun, kewenangan mereka terbatas dan sebagian besar aktivitas Vatikan dihentikan sementara.
Fokus utama para Kardinal adalah mempersiapkan Konklaf, sidang tertutup untuk memilih Paus baru.
Konklaf, yang biasanya berlangsung antara hari ke-15 hingga ke-20 setelah wafatnya Paus, akan diadakan di Kapel Sistina.
Para Kardinal yang berpartisipasi akan “dikurung” secara simbolis di dalam Vatikan hingga Paus baru terpilih. Hanya Kardinal berusia di bawah 80 tahun yang berhak memberikan suara.
Sekitar 80% dari Kardinal pemilih saat ini diangkat oleh Paus Fransiskus. Hal ini menunjukkan potensi keberlanjutan kebijakan progresifnya.
Pemilihan dilakukan melalui pemungutan suara rahasia. Calon Paus baru harus mendapatkan dua pertiga suara plus satu untuk terpilih. Proses ini mungkin berlangsung beberapa putaran.
Proses Pemilihan di Konklaf
Para Kardinal akan berkumpul dalam sidang rahasia.
Mereka akan memberikan suara secara rahasia dan berulang hingga mencapai kesepakatan.
Asap putih akan keluar dari cerobong Kapel Sistina sebagai tanda telah terpilihnya Paus baru. Asap hitam mengindikasikan belum tercapainya kesepakatan.
Setelah terpilih, Dekan Dewan Kardinal akan mengumumkan “Habemus Papam” dari balkon Basilika Santo Petrus.
Paus baru kemudian akan muncul dan memberikan berkat apostolik pertamanya.
Masa transisi ini merupakan momen refleksi atas kepemimpinan Paus Fransiskus. Ini juga waktu bagi umat Katolik untuk menantikan pemimpin baru yang akan meneruskan tugas suci memimpin Gereja. Prosesnya, yang sarat dengan simbolisme dan tradisi, menegaskan kesinambungan spiritual dan administratif Gereja Katolik Roma. Dunia menantikan babak selanjutnya dalam sejarah panjang Gereja Katolik.





