Setiap 10 Oktober, dunia memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia. Peringatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran global tentang pentingnya kesehatan mental, selayaknya kita memperhatikan kesehatan fisik. Sayangnya, sejarah panjang kesehatan mental seringkali terabaikan. Mari kita telusuri perjalanan panjang pemahaman dan penanganan kesehatan mental dari zaman purba hingga saat ini.
Perjalanan panjang memahami kesehatan mental telah dilalui manusia sejak zaman prasejarah. Masyarakat saat itu belum memiliki pemahaman ilmiah modern, dan gangguan mental seringkali dikaitkan dengan hal-hal supranatural. Namun, sejarah ini menunjukan betapa pentingnya upaya untuk memahami dan mengatasi isu kesehatan mental sejak awal peradaban manusia.
Dari Zaman Purba hingga Peradaban Awal: Pandangan Supranatural dan Perkembangan Awal Kedokteran
Pada zaman prasejarah, ketika logika dan pemahaman ilmiah masih sangat terbatas, gangguan mental sering diartikan sebagai akibat pengaruh roh jahat, kutukan, atau sihir. Penderita seringkali ditinggalkan, dibunuh, atau menjalani ritual pengobatan yang berdasarkan kepercayaan mistis.
Perkembangan peradaban manusia sekitar 5000 SM hingga 500 M membawa perubahan, meskipun masih kental dengan nuansa supranatural. Teknik pengobatan mulai bermunculan, seperti penggunaan jimat atau upacara ritual. Namun, perkembangan ilmu kedokteran di Mesir, Cina, Persia, Yunani, dan India mulai memberikan sudut pandang baru.
Hipokrates, sekitar 460 SM, mengajukan gagasan revolusioner bahwa gangguan mental adalah kondisi alami, bukan kutukan. Penanganannya pun mulai bergeser dengan metode yang lebih rasional, termasuk diet dan terapi fisik.
Abad Pertengahan hingga Abad ke-8: Antara Kemunduran dan Perkembangan dalam Islam
Abad pertengahan menandai kemunduran dalam pemahaman kesehatan mental. Dominasi kepercayaan demonologi menyebabkan penderita gangguan mental kembali diperlakukan dengan cara yang tidak manusiawi, seringkali disiksa atau diasingkan.
Namun, perkembangan agama dan kepercayaan di abad ke-8 mulai membawa perubahan positif. Ajaran Islam, misalnya, memberikan sumbangsih penting dalam pengembangan psikiatri dan pengobatan gangguan mental. Rumah sakit jiwa mulai berdiri di Baghdad, Persia, dan tempat lainnya, menandai kemajuan signifikan dalam penanganan penderita gangguan jiwa.
Abad ke-17 hingga Abad ke-20: Era Sains dan Gerakan Pembebasan
Dari abad ke-17 hingga ke-20, pandangan tentang kesehatan mental bergeser dari demonologi menuju pendekatan ilmiah. Gangguan jiwa mulai dianggap sebagai penyakit yang bisa dipelajari dan diobati secara medis.
Muncul gerakan-gerakan yang memperjuangkan hak-hak penderita gangguan mental, menentang praktik pemasungan dan perlakuan tidak manusiawi. Negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat mulai mendirikan rumah sakit jiwa modern dan menerapkan pendekatan humanis dalam penanganan pasien.
Gerakan ini berujung pada pembentukan World Federation for Mental Health (WFMH) pada tahun 1958, setelah Kongres Amerika Serikat mengesahkan Undang-Undang Kesehatan Mental Nasional. WFMH kemudian menggagas Hari Kesehatan Mental Sedunia yang diperingati setiap 10 Oktober sejak tahun 1992.
Perjalanan panjang ini membuktikan betapa pentingnya pemahaman dan penanganan yang tepat terhadap kesehatan mental. Dari pandangan supranatural hingga pendekatan ilmiah modern, sejarah kesehatan mental mengajarkan kita pentingnya empati, kesadaran, dan upaya berkelanjutan untuk memberikan dukungan dan perawatan yang layak bagi mereka yang membutuhkan. Hari Kesehatan Mental Sedunia menjadi pengingat akan hal tersebut, serta ajakan bagi kita untuk bersama-sama membangun masyarakat yang lebih inklusif dan peduli terhadap kesehatan mental.





