Rahasia Tencel: Teknologi Ramah Lingkungan untuk Fashion Berkelas

Redaksi

Rahasia Tencel: Teknologi Ramah Lingkungan untuk Fashion Berkelas
Sumber: Liputan6.com

Tencel, serat tekstil ramah lingkungan yang semakin populer, menawarkan kenyamanan dan keunggulan berkelanjutan. Dibuat dari bubur kayu, biasanya dari pohon eucalyptus atau beechwood, proses pembuatannya jauh berbeda dari rayon atau viscose biasa.

Keberlanjutan menjadi inti dari produksi Tencel. Kayu yang digunakan bersumber dari hutan yang dikelola secara lestari, memastikan pasokan bahan baku tanpa merusak lingkungan. Proses penanaman dan pemanenan memperhatikan aspek keberlanjutan ekosistem hutan.

Proses Pembuatan Tencel yang Ramah Lingkungan

Tencel, kain selulosa ringan, semakin diminati karena daya serapnya 50 persen lebih tinggi daripada katun. Proses produksinya juga lebih hemat energi dan air.

Penggunaan bahan kimia dalam proses produksi Tencel dikelola dalam sistem tertutup (closed-loop). Pelarut didaur ulang, meminimalisir limbah berbahaya. Sifatnya yang biodegradable juga mendukung aspek keberlanjutan mode.

Teknologi closed-loop merupakan kunci ramah lingkungan Tencel. Hampir semua pelarut kimia dapat dipulihkan hingga 99 persen. Hal ini meminimalisir limbah dan penggunaan air, mengurangi dampak pencemaran.

Sifat Alami dan Biodegradable Tencel

Tencel mirip dengan rayon seperti viscose dan modal. Semua serat selulosa ini dibuat dengan melarutkan pulp dan meregenerasi serat selulosa menjadi bentuk yang sesuai untuk tekstil.

Proses produksi Tencel menggunakan loop tertutup yang inovatif. Bubur kayu dilarutkan dan dipompa melalui pemintal, membentuk filamen yang dipotong menjadi serat. Lebih dari 99,8 persen pelarut dipulihkan dan digunakan kembali.

Kain Tencel sangat serbaguna. Tekstur dan ketebalan bergantung pada panjang serat yang digunakan. Teksturnya bervariasi, dari yang terasa seperti katun hingga sutra.

Lenzing AG, perusahaan Austria, merupakan salah satu produsen Tencel. Avinash Mane dari Lenzing AG menjelaskan Tencel memiliki daya serap 50 persen lebih tinggi dari katun.

Keunggulan Tencel yang mudah bernapas dan antibakteri membuatnya ideal untuk pakaian olahraga. Hal ini menjadikannya pilihan yang baik untuk aktivitas fisik yang intensif.

Efisiensi Penggunaan Air dan Keunggulan Lain Tencel

Tencel juga unggul dalam efisiensi penggunaan air. Dibandingkan dengan rayon, Tencel membutuhkan air jauh lebih sedikit, sekitar 10-20 kali lebih sedikit. Ini mengurangi jejak air dalam industri mode.

Proses pembuatan Tencel bebas pestisida. Hal ini karena bahan bakunya berasal dari kayu, sehingga lebih aman bagi konsumen dan lingkungan.

Berbagai merek internasional sudah menggunakan Tencel. Tasi Travels menggunakannya untuk pakaian perjalanan, sementara Patagonia, Tamga Designs, Tentree, Altar, dan Franc menggunakannya untuk berbagai jenis pakaian.

Di Indonesia, beberapa merek juga memanfaatkan Tencel sebagai bahan unggulan. Calla The Label, misalnya, sering menampilkan produk berbahan Tencel di pekan mode.

Lenzing Group, produsen serat berbasis kayu, berkolaborasi dengan Advance Denim dan Officina+39 untuk menciptakan denim ramah lingkungan. Mereka menggunakan serat TENCEL Lyocell dan proses pencucian Aqualess yang hemat air hingga 75 persen.

Koleksi denim ini bebas kapas dan membuka peluang eksplorasi desain berkelanjutan. Inovasi ini menunjukkan komitmen untuk mode yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Kesimpulannya, Tencel menawarkan alternatif serat tekstil yang ramah lingkungan dan nyaman. Dengan proses produksi berkelanjutan dan sifatnya yang biodegradable, Tencel menjadi pilihan yang bijak bagi industri mode yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan. Ke depannya, kita dapat berharap semakin banyak inovasi dalam penggunaan Tencel untuk menciptakan produk fesyen yang ramah lingkungan.

Also Read

Tags

Leave a Comment