Di lingkungan kerja, terkadang ada kecenderungan untuk menjadi karyawan yang patuh dan penurut. Sikap ini mungkin terlihat aman dan menghindari konflik. Namun, perlu dipertanyakan apakah kenyamanan tersebut sepadan dengan potensi terhambatnya perkembangan karier dan kepuasan pribadi. Banyak karyawan yang merasa frustrasi karena beban kerja yang berat tanpa apresiasi memadai, atau ide-ide mereka diabaikan.
Jika Anda merasakan hal serupa, mungkin sudah saatnya untuk mengembangkan asertivitas. Asertivitas bukanlah tentang menjadi agresif atau suka berdebat. Ini tentang kemampuan untuk menyampaikan pendapat, kebutuhan, dan batasan diri dengan tegas, namun tetap sopan dan menghargai orang lain. Berikut beberapa langkah praktis untuk meningkatkan asertivitas di tempat kerja.
1. Pahami Nilai dan Hak Anda
Langkah pertama menuju asertivitas adalah memahami nilai-nilai dan hak-hak Anda sebagai karyawan. Tanpa pemahaman ini, sulit untuk memperjuangkan kepentingan diri sendiri.
Tentukan nilai-nilai yang Anda pegang teguh dalam pekerjaan. Kenali hak-hak Anda, seperti hak atas jam istirahat yang cukup, penghormatan sebagai anggota tim, dan kesempatan pengembangan karier yang setara. Pemahaman ini akan menjadi dasar yang kuat saat Anda perlu menyampaikan pendapat atau menolak sesuatu yang tidak sesuai.
Dengan memahami nilai diri, rasa percaya diri akan meningkat. Anda akan menyadari kontribusi Anda penting dan bukan sekadar pelengkap. Hal ini akan membantu Anda menetapkan batasan dan kebutuhan di tempat kerja dengan lebih mudah.
2. Berani Mengatakan “Tidak” dengan Sopan
Mengucapkan “tidak” bukanlah pertanda tidak kooperatif. Justru, menolak dengan bijak menunjukkan bahwa Anda memahami kemampuan dan prioritas Anda.
Namun, menyampaikan penolakan membutuhkan strategi. Lakukan dengan sopan dan jelas, tanpa rasa bersalah. Contohnya, “Maaf, saya belum bisa menerima tugas ini karena terikat deadline proyek lain. Namun, saya bisa membantu mencari solusi alternatif.”
Dengan pendekatan ini, Anda tetap terlihat profesional. Terlalu sering menyetujui permintaan orang lain hanya akan membuat Anda kelelahan dan membuat orang lain menganggap enteng kemampuan Anda.
3. Sampaikan Pendapat Tanpa Menyinggung
Jangan biarkan opini dan ide Anda terpendam. Belajar menyampaikan pendapat secara efektif akan meningkatkan penghargaan dari tim. Namun, lakukan dengan sopan dan hindari menjatuhkan orang lain.
Anda bisa memulai dengan kalimat seperti, “Jika boleh saya usulkan, bagaimana jika kita mencoba cara ini?” atau “Menurut saya, ada alternatif lain yang bisa dipertimbangkan.” Kalimat pembuka yang halus akan membuat orang lain merasa dihargai.
Siapkan diri untuk kemungkinan pendapat Anda tidak langsung diterima. Asertivitas bukan tentang selalu menang, tetapi tentang berani menyampaikan ide dengan cara yang sehat dan dewasa.
4. Perhatikan Bahasa Tubuh dan Nada Bicara
Cara penyampaian pesan sangat penting. Argumen yang masuk akal pun akan kurang meyakinkan jika disampaikan dengan ragu-ragu.
Perhatikan bahasa tubuh. Tegakkan badan, tatap lawan bicara dengan ramah, dan gunakan nada bicara yang tegas namun tetap sopan. Hindari berbicara terlalu pelan atau terlalu keras.
Bahasa tubuh yang positif akan menunjukkan keseriusan dan kepercayaan diri. Dengan latihan, Anda akan terbiasa berkomunikasi dengan percaya diri di berbagai situasi.
Asertivitas di tempat kerja bukan tentang menjadi yang paling vokal, melainkan tentang mengendalikan diri sendiri dan mengetahui kapan harus bicara, kapan harus tegas, dan kapan harus berhenti. Ini tentang memperjuangkan hak Anda untuk dihargai dan didengar. Dengan mengembangkan asertivitas, Anda akan menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan produktif, sekaligus meningkatkan kepuasan dan keberhasilan karier Anda.





