Hujan deras mengguyur Jakarta pada Sabtu sore, 3 Mei 2025, mengakibatkan banjir di beberapa wilayah Jakarta Selatan. Keenam RT yang terdampak banjir tersebut berada di Ciganjur, Mampang Prapatan, dan Cilandak Timur. Banjir surut sepenuhnya pada Minggu dini hari.
Kejadian ini memicu pertanyaan, mengapa hujan lebat masih terjadi di Jakarta meskipun sudah memasuki musim kemarau? BMKG memberikan penjelasan terkait fenomena ini.
Penjelasan BMKG Terkait Hujan di Musim Kemarau
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa bulan Mei masih merupakan masa peralihan musim dari hujan ke kemarau di wilayah Jabodetabek.
Awal musim kemarau di Jabodetabek diperkirakan mulai Mei hingga Juni 2025. Kondisi ini bervariasi antar wilayah dan dipengaruhi dinamika atmosfer.
Cuaca di Jabodetabek ditandai dengan panas di pagi dan siang hari, serta potensi hujan pada sore atau malam hari.
Curah hujan tinggi beberapa hari terakhir disebabkan oleh beberapa faktor dinamika atmosfer. Salah satu faktor dominan adalah keberadaan bibit siklon 92S.
Bibit siklon 92S terpantau sejak 2 Mei 2025 di perairan selatan Jawa Tengah. Gerakannya ke barat daya memicu pertemuan massa udara dan meningkatkan potensi hujan lebat.
Sistem ini juga meningkatkan kecepatan angin hingga lebih dari 25 knot dan ketinggian gelombang laut hingga 2,5 meter di Samudra Hindia selatan Jawa hingga Bali.
Dampak Banjir dan Kondisi Terkini
Banjir di Jakarta Selatan mengakibatkan genangan air mencapai ketinggian 95 cm di beberapa titik. Jalan Putri Mutiara, Cilandak, juga tergenang setinggi 50 cm.
BPBD DKI Jakarta mencatat genangan air di enam RT dan satu ruas jalan. Genangan air tersebut disebabkan oleh curah hujan tinggi dan luapan kali.
Seluruh genangan di DKI Jakarta dilaporkan surut total pada Minggu, 4 Mei 2025, pukul 04.00 WIB.
Meskipun bibit siklon 92S sudah tidak terpantau aktif, BMKG tetap memantau pola tekanan rendah yang terkait.
Imbauan Kewaspadaan dari BMKG
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Meskipun bibit siklon sudah tidak aktif, potensi hujan lebat masih perlu diwaspadai.
Masyarakat dihimbau untuk selalu siaga dan mengikuti arahan dari pihak berwenang. Penting untuk selalu mempersiapkan diri menghadapi potensi cuaca ekstrem.
Peristiwa banjir di Jakarta menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi perubahan cuaca yang ekstrem, terutama selama masa peralihan musim.
BMKG terus melakukan pemantauan dan analisis untuk memberikan informasi terkini kepada masyarakat. Informasi ini diharapkan dapat membantu masyarakat untuk tetap aman dan siaga.
Dengan memahami faktor-faktor penyebab hujan lebat di musim kemarau, masyarakat dapat lebih siap menghadapi potensi bencana serupa di masa mendatang. Semoga informasi ini bermanfaat.





