PT PLN (Persero) dan China Export Import Bank (CEXIM) memperkuat komitmen mereka dalam mendukung transisi energi Indonesia. Kerja sama strategis ini ditandai dengan penandatanganan amandemen Nota Kesepahaman (MoU) di Jakarta pada Jumat, 23 Mei 2024. Langkah ini merupakan kelanjutan dari MoU sebelumnya yang ditandatangani di Tiongkok pada Oktober 2023.
Amandemen MoU ini menandai babak baru dalam kolaborasi kedua belah pihak untuk mempercepat transisi energi di Indonesia. Kerja sama ini diharapkan dapat mengatasi tantangan geografis dan kebutuhan investasi yang besar dalam proyek transisi energi Indonesia.
PLN dan CEXIM Perkuat Kemitraan untuk Transisi Energi
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyampaikan apresiasinya atas kerja sama ini. Ia menyebut penandatanganan MoU sebagai momentum penting dalam mempercepat transisi energi di Indonesia.
Darmawan menekankan eratnya hubungan bilateral Indonesia-Tiongkok sebagai latar belakang kerja sama ini. Transisi energi, menurutnya, menjadi fondasi penting bagi kerja sama strategis kedua negara di masa depan.
Tantangan dan Solusi Transisi Energi Indonesia
Indonesia menghadapi tantangan geografis yang kompleks dalam pengembangan energi baru terbarukan (EBT). Potensi sumber daya EBT banyak berada di daerah terpencil, sementara kebutuhan listrik terkonsentrasi di perkotaan.
Untuk mengatasi hal ini, PLN merencanakan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 70 gigawatt (GW), dengan 70% berasal dari energi terbarukan. PLN juga berencana membangun jaringan transmisi sepanjang 48.000 kilometer sirkuit dalam 10 tahun ke depan.
Investasi yang dibutuhkan untuk merealisasikan rencana ini diperkirakan mencapai US$ 171 miliar dalam satu dekade mendatang. Kolaborasi dengan berbagai pihak, baik lokal maupun internasional, menjadi kunci keberhasilannya.
Kebutuhan Investasi dan Kolaborasi
Besarnya kebutuhan investasi tersebut mengharuskan PLN untuk menjalin kerja sama strategis dengan berbagai pihak. Kolaborasi ini akan memastikan terwujudnya sistem kelistrikan yang andal dan berkelanjutan di Indonesia.
Darmawan menegaskan pentingnya kolaborasi dalam mempercepat transisi energi. Hal ini akan menghasilkan energi yang andal, ramah lingkungan, serta membuka lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Lingkup Kerja Sama PLN dan CEXIM
Melalui perpanjangan kerja sama ini, PLN dan CEXIM sepakat mendukung pengembangan sektor kelistrikan, khususnya pembangkitan energi konvensional (kecuali PLTU batu bara) dan energi terbarukan.
Energi terbarukan yang menjadi fokus kerja sama meliputi energi surya, angin, panas bumi, biomassa, dan lainnya. Kedua pihak akan mengeksplorasi berbagai skema pembiayaan, termasuk pembiayaan korporasi dan proyek.
Selain pembiayaan, kerja sama juga mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan berbagi pengetahuan. Hal ini akan memperkuat kemampuan Indonesia dalam mengelola transisi energi secara efektif dan berkelanjutan.
Chairman of CEXIM, Chen Huaiyu, menyampaikan apresiasi atas komitmen PLN. Ia menekankan kesiapan CEXIM untuk memperkuat kemitraan strategis dengan PLN. Penandatanganan MoU ini menandai dimulainya babak baru kolaborasi dan peluang perluasan kerja sama di berbagai bidang.
Chen Huaiyu juga menambahkan bahwa upaya PLN dalam transisi energi tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan ekonomi nasional, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan rakyat.
CEXIM sangat mengapresiasi rencana transisi energi PLN. Pihaknya menyadari bahwa Indonesia tidak dapat menjalankan upaya ini sendiri dan bangga dapat berpartisipasi dalam rencana ambisius PLN selama 10 tahun ke depan.
Kerja sama PLN dan CEXIM menunjukan komitmen kuat dalam membangun masa depan energi Indonesia yang berkelanjutan. Kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi model bagi kerja sama internasional dalam menghadapi tantangan transisi energi global. Dukungan pembiayaan dan transfer pengetahuan dari CEXIM akan sangat krusial bagi keberhasilan program transisi energi Indonesia.





