Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan aksesibilitas ke Taman Nasional Taka Bonerate (TNTBR). Uji coba operasional pesawat amfibi atau seaplane menjadi solusi yang diyakini dapat mengatasi kendala akses menuju destinasi wisata bahari tersebut.
Rencana ini diharapkan tidak hanya mempermudah wisatawan, tetapi juga mendukung upaya konservasi dan edukasi lingkungan di TNTBR. Kepala Balai TNTBR, William Tengker, menyebut proyek ini sebagai momentum penting untuk kemajuan aksesibilitas ke Taka Bonerate.
Persiapan Uji Coba Pesawat Amfibi di Makassar
Pembahasan rencana uji coba seaplane telah dilakukan oleh Balai TNTBR bersama pemangku kepentingan, termasuk Wildlife Conservation Society (WCS). Uji coba mencakup pendaratan, lepas landas, manuver, dan bersandar di Dermaga Pelabuhan Utama Makassar.
Gubernur Sulsel, melalui Asisten I Bidang Pemerintahan Andi Muhammad Yasir, menyatakan seaplane akan difokuskan untuk melayani kawasan Taka Bonerate di Kepulauan Selayar. Atol terbesar ketiga di dunia ini ditargetkan menjadi gerbang internasional.
Kepala Bidang Lalu Lintas Perhubungan Laut, Libertinus, menekankan pentingnya integrasi rute seaplane dengan sistem transportasi laut lain, seperti tol laut. Hal ini akan meningkatkan efisiensi distribusi logistik dan akses wisata ke daerah terpencil.
Rencana Lintasan Seaplane dan Integrasi Transportasi
Rute seaplane yang direncanakan akan menghubungkan Makassar dengan beberapa kabupaten kepulauan di Sulawesi Selatan. Lintasan strategis tersebut akan mencakup Selayar, Bulukumba, dan Sinjai.
Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Makassar, Sahattua P Simatupang, memandang seaplane sebagai terobosan untuk mengatasi hambatan aksesibilitas ke Selayar dan Taka Bonerate yang selama ini menghambat pertumbuhan sektor pariwisata.
Kolaborasi multisektoral dalam proyek ini diharapkan dapat memicu investasi baru di sektor transportasi dan pariwisata Sulawesi Selatan. Dukungan akademisi dan lembaga konservasi juga diharapkan untuk menjamin keberlanjutan proyek.
Pengembangan Pulau Lantigiang sebagai Destinasi Wisata Utama
Pulau Lantigiang, yang berada di TNTBR, menjadi salah satu destinasi wisata yang tengah dikembangkan. Pulau ini menawarkan keindahan alam yang menakjubkan, seperti pasir putih, air laut jernih, dan terumbu karang yang kaya.
Pulau Lantigiang akan dikembangkan sebagai destinasi utama setelah Pulau Tinabo. Sistem pembelian tiket dan pembayaran non-tunai juga akan diterapkan di kawasan TNTBR, termasuk di Pulau Lantigiang.
Saat ini, wisatawan yang ingin berkunjung ke Taka Bonerate umumnya menggunakan kapal kayu dengan biaya Rp75.000 per orang, atau kapal feri dan KM Sabuk Nusantara dengan biaya Rp85.000 per orang. Ketersediaan transportasi ini pun tidak setiap hari.
Pengembangan Pulau Lantigiang sebagai destinasi wisata utama perlu dilakukan dengan memperhatikan aspek keberlanjutan. Pelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat sekitar harus diutamakan.
Kedekatan Pulau Lantigiang dengan spot diving terkenal Jinato Wall Paradise semakin menambah daya tariknya. Namun, pengembangannya tetap harus mempertimbangkan statusnya sebagai bagian dari kawasan konservasi.
Meskipun Pulau Lantigiang termasuk Zona Pemanfaatan, sama seperti Pulau Tinabo, namun fasilitas di Lantigiang seringkali rusak akibat kondisi pulau yang dinamis. Oleh karena itu, pengembangan wisata di pulau ini memerlukan perencanaan yang matang dan berkelanjutan.
Taman Nasional Taka Bonerate telah memiliki SOP pengunjung dan melakukan briefing sebelum wisatawan melakukan aktivitas. Agen perjalanan yang bekerja sama juga telah berizin dan diklaim patuh pada aturan yang berlaku.
Proyek seaplane ini menjanjikan masa depan pariwisata Sulawesi Selatan yang lebih cerah. Dengan akses yang lebih mudah dan terintegrasi, Taka Bonerate berpotensi menjadi destinasi wisata kelas dunia yang tetap menjaga kelestarian lingkungannya. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada perencanaan yang matang dan kolaborasi yang kuat dari berbagai pihak.





