Paus Fransiskus Meninggal: 8 Kandidat Paus Baru Muncul

Redaksi

Paus Fransiskus Meninggal: 8 Kandidat Paus Baru Muncul
Sumber: Pikiran-rakyat.com

Dunia berduka. Paus Fransiskus, pemimpin spiritual jutaan umat Katolik di seluruh dunia, telah meninggal dunia pada Senin, 21 April 2025, di usia 88 tahun. Kepergian Paus asal Argentina ini meninggalkan kekosongan besar di Takhta Suci, memicu proses transisi penuh tradisi menuju pemilihan pemimpin baru Gereja Katolik Roma. Masa transisi ini, yang dikenal sebagai *sede vacante*, akan dipimpin sementara oleh seorang tokoh berpengalaman di Vatikan.

Kardinal Kevin Farrell, Camerlengo Vatikan, akan memimpin sementara hingga Paus baru dipilih. Pengalamannya yang luas dan posisinya yang strategis memastikan kelancaran administrasi Vatikan selama masa transisi.

Kardinal Kevin Farrell: Penjaga Sementara Vatikan

Kardinal Kevin Farrell, berusia 77 tahun, resmi ditunjuk sebagai Camerlengo, jabatan yang bertanggung jawab atas administrasi Vatikan selama masa *sede vacante*. Ia ditunjuk oleh Paus Fransiskus sendiri pada tahun 2019 dan diangkat menjadi Kardinal pada tahun 2016.

Farrell, berasal dari Dublin, Irlandia, telah mengabdi sebagai imam sejak tahun 1978. Pengalamannya yang panjang mencakup berbagai negara, termasuk Meksiko, Roma, dan Amerika Serikat.

Sebelum menjabat Camerlengo, ia menjabat sebagai Uskup Keuskupan Katolik Dallas (2007-2016). Ia juga memegang posisi penting sebagai Presiden Komisi Urusan Rahasia sejak 2020 dan Presiden Mahkamah Agung Vatikan sejak 2023.

Tugas Farrell selama *sede vacante* meliputi pengelolaan administrasi Vatikan, persiapan Konklaf, dan menjaga kelangsungan tradisi Gereja Katolik hingga terpilihnya Paus baru. Perannya sangat krusial dalam memastikan transisi kepemimpinan berjalan lancar dan tertib.

Kandidat-Kandidat Potensial Pengganti Paus Fransiskus

Wafatnya Paus Fransiskus telah memicu spekulasi luas mengenai siapa yang akan meneruskan kepemimpinannya. Banyak nama Kardinal telah muncul sebagai kandidat potensial. Berikut beberapa di antaranya, yang mewakili beragam latar belakang dan pandangan:

  • Luis Antonio Tagle (Filipina): Kardinal karismatik dan peduli isu kemanusiaan. Potensial menjadi Paus Asia pertama.
  • Peter Turkson (Ghana): Penasihat Paus Fransiskus dalam isu perubahan iklim dan keadilan sosial. Mewakili Afrika.
  • Peter Erdő (Hungaria): Kardinal konservatif dari Eropa Timur. Uskup Agung Esztergom-Budapest.
  • Pietro Parolin (Italia): Sekretaris Negara Vatikan, berpengalaman dalam diplomasi dan urusan internal Vatikan.
  • José Tolentino Calaça de Mendonça (Portugal): Kepala departemen budaya dan pendidikan Vatikan. Mewakili kaum progresif.
  • Matteo Zuppi (Italia): Uskup Agung Bologna, dikenal progresif dan dekat dengan Paus Fransiskus.
  • Mario Grech (Malta): Sekretaris Jenderal Sinode para Uskup. Memiliki peluang signifikan.
  • Robert Sarah (Guinea): Kardinal konservatif dengan pandangan tegas terhadap isu gender dan radikalisme.

Proses pemilihan Paus baru akan menjadi sorotan dunia. Berbagai pandangan dan latar belakang kandidat akan menentukan arah Gereja Katolik ke depannya.

Konklaf: Proses Pemilihan Paus Baru

Pemilihan Paus baru akan dilakukan melalui Konklaf, pertemuan tertutup para Kardinal di bawah usia 80 tahun dari seluruh dunia. Konklaf berlangsung di Kapel Sistina dengan aturan ketat dan penuh khidmat.

Pemungutan suara rahasia dilakukan berulang kali hingga seorang kandidat memperoleh dua pertiga suara. Kardinal terpilih akan dimintai persetujuan menerima jabatan dan kemudian mengumumkan nama kepausannya.

Durasi Konklaf bervariasi, bisa berlangsung beberapa hari hingga beberapa minggu. Proses ini akan menjadi momen penting bagi Gereja Katolik dan dunia. Hasilnya akan membentuk masa depan Gereja Katolik.

Paus baru yang akan terpilih akan menghadapi tantangan besar. Sekularisasi, krisis pelecehan seksual, dialog antaragama, perubahan iklim, dan ketidakadilan sosial adalah beberapa di antaranya. Umat Katolik di seluruh dunia berharap pemimpin baru mereka akan memimpin dengan kebijaksanaan, kasih, dan keberanian. Pemilihan ini tak hanya menentukan pemimpin Gereja Katolik, tetapi juga arah masa depan institusi tersebut di dunia yang terus berubah.

Also Read

Tags

Leave a Comment