Candi Gunung Wukir, yang terletak di Dusun Canggal, Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menyimpan sejarah penting Indonesia. Keberadaannya dikaitkan erat dengan Prasasti Canggal, prasasti tertua yang mencantumkan tahun pembuatannya, sekaligus menjadi bukti kekuasaan Kerajaan Medang di Mataram. Kompleks candi ini, yang kini hanya berupa reruntuhan, menawarkan perjalanan waktu yang mempesona bagi para pencinta sejarah.
Candi Gunung Wukir, juga dikenal sebagai Candi Canggal, merupakan bukti nyata peradaban masa lalu. Penelitian arkeologis terus mengungkap misteri di balik reruntuhannya.
Jejak Raja Sanjaya dan Arsitektur Candi Hindu
Prasasti Canggal mengindikasikan Raja Sanjaya, raja pertama Kerajaan Mataram Kuno, sebagai pendiri Candi Gunung Wukir. Candi utama dan tiga candi perwara (pendamping) semula membentuk kompleks candi yang megah.
Candi ini dibangun dari batu andesit, material yang umum ditemukan di sekitar gunung berapi. Kini, hanya tinggal reruntuhan yang tersisa, namun keberadaan yoni dan arca Nandi (lembu suci) mengukuhkan karakteristik Hindu candi ini.
Lokasi dan Akses Menuju Situs Bersejarah
Candi Gunung Wukir berada di atas bukit di Dataran Kedu, kawasan kaya akan peninggalan sejarah. Pengunjung dapat menjangkaunya dengan berjalan kaki sekitar 300 meter dari Dusun Canggal.
Lokasi candi yang strategis, dekat jalan penghubung Kecamatan Salam dan Ngluwar, memudahkan aksesibilitas. Kawasan ini juga menyimpan situs-situs lain dari era yang sama, seperti Candi Losari, Petirtaan Mantingan, Candi Gunungsari, dan Candi Ngawen.
Sejarah dan Nama Asli Candi Tertua
Candi Gunung Wukir merupakan salah satu candi tertua di Indonesia dengan catatan sejarah yang jelas. Prasasti Canggal, ditemukan tahun 1879, mencatat pembangunannya pada masa pemerintahan Raja Sanjaya sekitar tahun 732 Masehi (654 Saka).
Prasasti tersebut menyebut candi ini sebagai Shiwalingga di Kunjarakunja. Nama Gunung Wukir sendiri berasal dari letaknya di atas bukit. Kompleks candi seluas sekitar 50 x 50 meter ini juga menyimpan lingga, yoni (satu besar dan dua kecil), serta arca Nandi.
Bahan Bangunan dan Penyebab Kerusakan
Candi-candi di Kabupaten Magelang umumnya terbuat dari batu andesit, dengan batu putih sebagai elemen pelengkap. Batu-batu disusun tanpa perekat, kecuali pada beberapa bagian luar.
Kerusakan parah yang dialami Candi Gunung Wukir disebabkan oleh beberapa faktor. Bencana alam seperti gempa bumi dan letusan gunung berapi, peperangan, dan pemanfaatan kembali material candi oleh masyarakat sekitar menjadi penyebab utama.
Potensi Wisata dan Harapan Pengembangan
Candi Gunung Wukir memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya. Lokasinya yang tak jauh dari lereng Gunung Merapi membuatnya ideal untuk paket wisata.
Rofi’i, pelaku wisata Jeep Jurang Jero, Muntilan, berharap kawasan ini dapat menarik lebih banyak wisatawan, sekaligus memperkaya wawasan sejarah pengunjung. Perjalanan menuju candi yang menantang, melewati perkampungan dan rindangnya pohon bambu, menambah daya tarik tersendiri.
Candi Gunung Wukir, sebagai saksi bisu kejayaan Mataram Kuno, tak hanya bernilai sejarah, namun juga memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata unggulan di Magelang. Pelestariannya menjadi kunci untuk menjaga warisan budaya bagi generasi mendatang. Penelitian lebih lanjut dan pengembangan infrastruktur pariwisata yang berkelanjutan akan sangat membantu meningkatkan daya tarik dan aksesibilitas situs bersejarah ini.





