Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Wihaji, melakukan kunjungan kerja ke Majalengka, Jawa Barat. Tujuan kunjungannya adalah untuk meninjau langsung program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ibu hamil dan balita serta memastikan penyalurannya berjalan efektif.
Bersama Bupati Majalengka, Eman Suherman, Menteri Wihaji mengunjungi salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Majalengka. Kunjungan ini dilakukan untuk melihat langsung proses produksi dan distribusi makanan bergizi tersebut.
Peninjauan Langsung Proses Produksi MBG di SPPG
Di SPPG Yayasan Kusuma Raga Utama, Menteri Wihaji mengamati secara detail proses produksi makanan bergizi. Ia memperhatikan setiap tahapan, mulai dari pemilihan bahan baku hingga pengemasan.
Menteri Wihaji menekankan pentingnya kualitas makanan yang disajikan. Makanan harus terjamin kebersihan, gizinya terpenuhi dan aman dikonsumsi oleh ibu hamil dan balita.
Distribusi MBG dan Peran Tim Pendamping Keluarga
Menteri Wihaji menjelaskan bahwa setiap SPPG wajib mengalokasikan 10% dari total produksi makanan untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Alokasi ini mempertimbangkan jarak SPPG dengan rumah penerima manfaat.
Distribusi MBG dilakukan oleh Tim Pendamping Keluarga (TPK) dari BKKBN. TPK bertugas mendistribusikan makanan dan sekaligus melakukan evaluasi terhadap program ini.
Selain mendistribusikan, TPK juga berperan penting dalam memantau penerima manfaat. Mereka memastikan makanan sampai ke tangan yang tepat dan dikonsumsi oleh mereka yang berhak menerimanya.
Evaluasi yang dilakukan TPK meliputi berbagai aspek, termasuk kepatuhan distribusi, kualitas makanan, dan efektivitas program terhadap kesehatan ibu dan anak.
Pentingnya Pengawasan dan Efektivitas Program MBG
Menteri Wihaji menekankan pentingnya pengawasan agar program MBG tepat sasaran. Hal ini untuk memastikan manfaat program benar-benar dirasakan oleh ibu hamil dan balita yang membutuhkan.
Wihaji mencontohkan pentingnya memastikan bahwa penerima manfaat, yaitu ibu hamil, yang mengkonsumsi makanan tersebut, bukan orang lain.
Pengawasan yang ketat akan mencegah penyimpangan dan memastikan program MBG mencapai tujuan utamanya, yaitu meningkatkan gizi ibu hamil dan balita untuk mendukung tumbuh kembang anak yang optimal.
Menteri Wihaji secara langsung menyerahkan paket MBG kepada seorang ibu menyusui dan balitanya. Ia berinteraksi langsung untuk memahami dampak program ini terhadap kesejahteraan keluarga.
Kunjungan Menteri Wihaji ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas program MBG dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Majalengka.
Keberhasilan program MBG tidak hanya bergantung pada ketersediaan makanan bergizi, tetapi juga pada pengawasan dan distribusi yang tepat sasaran serta peran aktif dari Tim Pendamping Keluarga.
Melalui kerjasama yang baik antara pemerintah pusat dan daerah, diharapkan program MBG dapat terus ditingkatkan kualitas dan jangkauannya guna mendukung terwujudnya generasi penerus bangsa yang sehat dan berkualitas.





