Kota Magelang, sebuah kota di Provinsi Jawa Tengah, memiliki sejarah panjang dan lokasi yang strategis. Terletak di tengah Kabupaten Magelang, posisinya di jalur Semarang-Yogyakarta menjadikannya pusat perdagangan dan perlintasan penting sejak dulu. Lebih dari sekadar lokasi strategis, Kota Magelang menyimpan jejak peradaban yang kaya, terungkap melalui prasasti dan situs bersejarah. Eksistensi kota ini telah terukir sejak berabad-abad lalu dan terus berkembang hingga kini.
Sejarah panjang Kota Magelang menorehkan berbagai peristiwa penting, dari perannya sebagai pusat pemerintahan hingga perkembangannya menjadi kota madya. Penetapan hari jadinya pun didasarkan pada riset dan kajian mendalam, memastikan akurasi dan kredibilitas informasi sejarahnya.
Asal Usul Kota Magelang: Dari Desa Perdikan Mantiasih
Sejarah Kota Magelang bermula dari Desa Perdikan Mantiasih, yang dikenal sebagai Kampung Meteseh. Di sinilah ditemukan lumpang batu yang dipercaya sebagai tempat upacara penetapan Sima atau Perdikan.
Prasasti Gilikan dan Mantyasih menjadi sumber penting dalam menelusuri sejarah awal kota ini. Kedua prasasti tersebut memberikan petunjuk tentang keberadaan Desa Mantiasih dan Glangglang pada masa pemerintahan Raja Rake Watukura Dyah Balitung (810-910 M).
Prasasti Mantyasih, khususnya, menyebutkan tanggal 11 April 907 Masehi sebagai hari penetapan Desa Mantiasih sebagai Desa Perdikan. Tanggal ini kemudian menjadi dasar penetapan Hari Jadi Kota Magelang.
Desa Mantiasih, yang kini dikenal sebagai Meteseh, dan Desa Glangglang yang bertransformasi menjadi Magelang, membentuk cikal bakal kota yang kita kenal sekarang.
Perkembangan Magelang: Dari Desa Perdikan hingga Kota Madya
Setelah ditetapkan sebagai Desa Perdikan, Magelang terus berkembang. Lokasinya yang strategis di antara Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing turut mendukung pertumbuhannya.
Magelang kemudian menjadi ibu kota Karesidenan Kedu, menunjukkan pentingnya perannya dalam pemerintahan daerah. Perkembangan ini juga menandai peralihannya dari desa menjadi pusat pemerintahan yang lebih besar.
Setelah kemerdekaan Indonesia, Magelang berstatus kota praja, kemudian menjadi kota madya seiring dengan otonomi daerah yang lebih luas pada era reformasi.
Masa pemerintahan Inggris pada abad ke-18 juga meninggalkan jejak di Magelang. Mereka menjadikan kota ini sebagai pusat pemerintahan Kabupaten dan mengangkat Mas Ngabehi Danukromo sebagai bupati pertama.
Bupati Danukromo berperan penting dalam membangun infrastruktur Kota Magelang, termasuk alun-alun, tempat tinggal bupati, dan masjid.
Pada tahun 1818, Magelang secara resmi ditetapkan sebagai ibu kota Karesidenan Kedu, menandai tonggak sejarah penting dalam perkembangan kota ini.
Penetapan Hari Jadi Kota Magelang: Sebuah Proses Riset dan Kajian
Penetapan 11 April sebagai Hari Jadi Kota Magelang bukan keputusan sepihak. Prosesnya melibatkan riset dan diskusi intensif.
Seminar dan diskusi antara Panitia Peneliti Hari Jadi Kota Magelang dengan Universitas Tidar Magelang, dibantu pakar sejarah dan arkeologi dari Universitas Gajah Mada, menjadi kunci penetapan tersebut.
Penelitian di Museum Nasional dan Museum Radya Pustaka Surakarta juga memberikan data pendukung yang memperkuat penetapan Hari Jadi Kota Magelang.
Berbagai sumber sejarah dan arkeologi diteliti secara saksama sebelum akhirnya tanggal 11 April 907 M yang tercantum dalam Prasasti Mantyasih dipilih sebagai hari jadi Kota Magelang. Proses yang teliti ini memastikan akurasi dan kredibilitas informasi sejarah Kota Magelang.
Peringatan Hari Jadi Kota Magelang setiap tanggal 11 April berdasarkan Peraturan Daerah Kota Magelang Nomor 6 Tahun 1989, menjadi momen untuk mengenang sejarah panjang dan perkembangan kota ini hingga menjadi seperti sekarang.
Dari sebuah desa perdikan kecil, Magelang berkembang menjadi kota yang strategis dan kaya akan sejarah. Perjalanan panjang ini menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang, mengingatkan kita pada pentingnya melestarikan dan menghargai sejarah.





