Setelah wafatnya Paus Fransiskus, dunia menantikan pemilihan Paus berikutnya melalui konklaf rahasia para Kardinal. Proses pemilihan ini selalu menarik perhatian global, namun kali ini terdapat perbedaan signifikan.
Perbedaannya terletak pada pemanfaatan media sosial oleh para Kardinal. Mereka kini lebih aktif berbagi informasi dan berinteraksi dengan publik, sebuah perubahan besar dalam komunikasi Gereja Katolik dengan dunia luar.
Fenomena Baru: Kardinal Aktif di Media Sosial
Gustavo Entrala, konsultan komunikasi yang berpengalaman bekerja dengan Paus Benediktus XVI dan Paus Fransiskus, mencatat peningkatan aktivitas para Kardinal di media sosial. Hal ini sangat kontras dengan konklaf sebelumnya.
Kardinal Isao Kukuchi dari Tokyo, misalnya, membagikan swafoto bersama Kardinal lain saat berdoa di makam Paus Fransiskus. Kardinal William Goh dari Singapura mengajak publik untuk mendoakan terpilihnya Paus yang tepat.
Jenis konten yang dibagikan pun berubah. Jika sebelumnya lebih berfokus pada hal doktrinal dan spiritual, kini konten lebih berorientasi pada proses konklaf dan kepausan itu sendiri.
Keterbukaan ini memungkinkan publik merasakan hubungan yang lebih dekat dengan para Kardinal. Mereka terlihat lebih ramah dan mudah didekati.
Bukan untuk Kampanye Pribadi, Tapi Transparansi
Entrala menegaskan bahwa penggunaan media sosial bukan untuk kampanye pribadi. Para Kardinal memanfaatkannya sebagai platform untuk berbagi proses dan pemikiran mereka.
Namun, profesor Kurt Martens dari Universitas Katolik Amerika mengingatkan akan risiko pelanggaran kerahasiaan konklaf. Hal ini dapat berakibat sanksi berat, bahkan ekskomunikasi.
Tantangan lain adalah komentar negatif di media sosial. Walter Scheirer dari Universitas Notre Dame mengamati bahwa para Kardinal jarang membalas komentar tersebut.
Hal ini bisa mengurangi interaksi dan keterlibatan dengan publik. Para Kardinal perlu bijak dalam mengelola media sosial mereka.
Transformasi dalam Hierarki Gereja dan Era Digital
Meskipun ada risiko, media sosial telah membuka akses lebih luas ke dunia Gereja Katolik. Ini mengubah cara kerja hierarki tradisional Gereja.
Jana Bennett dari Universitas Dayton menjelaskan bahwa platform ini memberi umat wawasan keagamaan dari berbagai sumber, tidak terbatas pada paroki lokal.
Umat dapat memilih sumber informasi keagamaan yang mereka anggap kredibel. Ini merupakan perubahan signifikan dalam keterlibatan umat dengan Gereja.
Media sosial tidak hanya mengubah cara komunikasi Gereja, tetapi juga menawarkan cara baru bagi umat untuk terhubung dan berpartisipasi.
Konklaf yang akan dimulai pada 7 Mei 2025 akan menunjukkan pengaruh media sosial dalam pemilihan Paus dan adaptasi Gereja Katolik di era digital.
Baik Paus Benediktus dan Fransiskus telah menggunakan media sosial. Benediktus bahkan memulai akun Twitter kepausan, @Pontifex, pada tahun 2012.
Makanan dan Tradisi dalam Konklaf
Konklaf untuk memilih Paus ke-267 akan dimulai pada 7 Mei 2025. Selama lebih dari 750 tahun, aturan ketat mengatur makanan yang dikonsumsi para Kardinal selama konklaf.
Aturan ini bertujuan mencegah penyampaian pesan tersembunyi melalui makanan. Sebelum konklaf, para Kardinal sering mengunjungi restoran favorit mereka.
Selama konklaf, para Kardinal akan sepenuhnya terisolasi dari dunia luar. Mereka akan melakukan pemungutan suara, tidur, dan makan dalam ruang tertutup yang terkontrol.
Entrala memprediksi bahwa Paus berikutnya akan aktif di media sosial, bahkan mungkin meningkatkan kehadiran digital melalui siaran langsung.
Penggunaan media sosial oleh para pemimpin Gereja menandai perubahan besar dan menarik untuk diamati dalam konteks pemilihan Paus yang akan datang.
Kehadiran media sosial telah merevolusi cara Gereja berinteraksi dengan dunia, menawarkan transparansi sekaligus tantangan baru dalam menjaga kerahasiaan dan reputasi.





