Presiden Joko Widodo (Jokowi) tengah mempertimbangkan peluangnya untuk menjadi Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Pernyataan ini muncul setelah Jokowi secara terbuka menyatakan sedang melakukan kalkulasi agar tidak mengalami kekalahan jika mendaftar. Langkah ini memicu beragam spekulasi dan analisis politik.
Keinginan Jokowi untuk memimpin PSI bukanlah hal yang mengejutkan. Sejumlah pengamat politik telah menganalisis potensi dan implikasi dari langkah tersebut.
Potensi Jokowi Menjadi Ketum PSI: Sebuah Analisis
Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro, menilai peluang Jokowi sangat besar. Beliau menjelaskan bahwa Jokowi membutuhkan kendaraan politik, sebagaimana Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono yang memimpin partai masing-masing.
PSI, di sisi lain, membutuhkan figur kuat seperti Jokowi untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas. Keduanya saling membutuhkan, menciptakan sinergi yang menguntungkan. Peluang Jokowi menang pun dinilai sangat tinggi.
Alasan Jokowi Membutuhkan Kendaraan Politik
Agung Baskoro menjabarkan beberapa alasan mengapa Jokowi membutuhkan kendaraan politik. Pertama, untuk menjaga warisan pemerintahannya selama dua periode.
Kedua, untuk mempertahankan pengaruhnya di kalangan elit dan publik. Ketiga, sebagai benteng pertahanan politik untuk melindungi dirinya dan keluarganya dari serangan politik.
Serangan yang dimaksud meliputi isu ijazah palsu, hingga serangan terhadap keluarganya, termasuk Gibran Rakabuming Raka, dan ancaman pemakzulan. PSI, menurut Agung, dapat menjadi benteng tersebut.
PSI dan Magnet Figur Jokowi
PSI, yang sejak awal mengusung mazhab Jokowisme, akan semakin berkembang dengan Jokowi sebagai Ketum. Kehadiran Jokowi akan menarik minat banyak orang untuk bergabung dengan partai tersebut.
Keberhasilannya bergantung pada bagaimana figur Jokowi dikemas dan dipromosikan secara efektif. Momentum saat ini dinilai sangat tepat untuk memanfaatkan kekuatan magnet figur Jokowi.
Pernyataan Jokowi Mengenai Ketum PSI
Jokowi sendiri telah membenarkan sedang mempertimbangkan peluang tersebut. Ia menekankan pentingnya perhitungan matang agar tidak mengalami kekalahan.
Meskipun demikian, Jokowi menegaskan belum mendaftarkan diri. Proses pemilihan ketua umum PSI masih berlangsung hingga bulan Juli.
Agung menambahkan, jika Jokowi maju sebagai calon Ketum PSI, pesaingnya kemungkinan akan berpikir ulang atau menunda niatnya. Hal ini termasuk Kaesang Pangarep, putra Jokowi.
Kesimpulannya, potensi Jokowi menjadi Ketua Umum PSI sangat besar. Hal ini didorong oleh kebutuhan Jokowi akan kendaraan politik dan kebutuhan PSI akan figur kuat. Namun, keberhasilannya juga bergantung pada strategi politik yang tepat. Situasi ini akan terus menjadi sorotan menarik dalam dinamika politik Indonesia.





