Desainer kondang Eddy Betty kembali mencuri perhatian publik. Setelah karyanya dikenakan Luna Maya di pernikahannya dengan Maxime Bouttier, Eddy menggelar pagelaran tunggal bertajuk “Luminescence” di Mulia Hotel Jakarta pada Kamis, 15 Mei 2025. Peragaan busana ini menandai kembalinya Eddy ke panggung setelah vakum selama delapan tahun, sejak peragaan “Liberte” pada September 2017.
Acara yang awalnya dijadwalkan pukul 18.30 WIB ini molor hingga 20.30 WIB. Hal ini diduga karena Eddy ingin memastikan semua tamu undangan hadir.
Kembalinya Cahaya “Luminescence”: Koleksi Eddy Betty yang Memukau
Dengan tema “Luminescence” yang berarti cahaya, kilau, atau mengilap dalam bahasa Prancis, peragaan busana ini memang menyuguhkan suasana spektakuler. Nuansa gemerlap cahaya begitu terasa, selaras dengan inspirasi yang diambil Eddy dari matahari dan pantulannya di lautan.
Hadirnya deretan selebriti ternama seperti Bunga Citra Lestari, Mikha Tambayong, Angga Yunanda dan Shenina Cinnamon, Laura Basuki, Yura Yunita, dan Maudy Ayunda turut memeriahkan acara tersebut. Namun, pasangan pengantin baru Luna Maya dan Maxime Bouttier tampak absen.
Para desainer senior Indonesia juga memberikan dukungan penuh. Sebut saja Sebastian Gunawan, Didi Budiardjo, Chossy Latu, Andreas Odang, Hian Tjen, Yogie Pratama, Wilsen Willim, Yosafat Dwi Kurniawan, Obin, Edward Hutabarat, dan Chitra Subyakto.
77 Set Busana yang Memukau dengan Sentuhan Haute Couture
Eddy Betty menampilkan 77 set busana yang menunjukan penguasaan teknik dan kreativitasnya yang mumpuni. Koleksi ini memadukan unsur avant garde, struktural, dan romantis dengan fokus pada bustier dan korset.
Beragam material mewah digunakan, seperti chiffon, lame, silk, logam, resin, dan polimer. Detail unik berupa potongan kaca juga menjadi ornamen dekoratif yang menarik. Permainan tekstur dan detail menjadi ciri khas karya Eddy yang tak lekang oleh waktu.
Salah satu gaun yang mencuri perhatian adalah gaun chiffon coklat flowy dengan bustier emas berbentuk crinoline dan interpretasi baru topi nelayan. Desain ini mendapat pujian dari desainer senior Wilsen Willim yang terpesona dengan teknik pembuatan korsetnya.
Kolaborasi dan Inspirasi Multidimensional
Musik yang dipilih Eddy juga beragam, mulai dari lagu-lagu disko Prancis hingga komposisi Ennio Morricone. Hal ini merefleksikan kepiawaiannya dalam menciptakan karya multidimensional yang tak terikat zaman.
Kolaborasi dengan desainer aksesoris Rinaldy A. Yunardi juga menjadi poin penting dalam peragaan ini. Rinaldy menciptakan hiasan kepala dramatis yang melengkapi busana Eddy dengan sempurna. Proses kolaborasi yang singkat, hanya dua bulan, berjalan lancar berkat pemahaman dan kepercayaan yang kuat antara keduanya.
Rinaldy memuji Eddy sebagai desainer serba bisa yang tak pernah merasa tersaingi dalam kolaborasi. Menurutnya, Eddy memiliki gaya unik dan percaya diri dalam berkarya, sehingga kolaborator lain dapat leluasa berkreasi tanpa khawatir karyanya akan “menghilangkan” karya Eddy.
Penampilan busana pengantin yang didominasi warna putih, dengan berbagai siluet dari kebaya hingga gaun bergaya Victoria, menjadi penutup yang sempurna. Peragaan busana “Luminescence” membuktikan konsistensi Eddy Betty dalam menciptakan karya-karya yang bernilai tinggi, tak hanya dari segi estetika, tetapi juga teknik dan inspirasi yang mendalam.
Acara ini tidak hanya menjadi peragaan busana semata, tetapi juga sebuah perayaan atas dedikasi dan perjalanan karier Eddy Betty selama bertahun-tahun. Kehadiran desainer senior dan selebriti ternama menunjukkan apresiasi tinggi terhadap bakat dan karya sang maestro. “Luminescence” lebih dari sekadar peragaan busana; ia adalah cerminan perjalanan kreatif yang terus bersinar.




