15 Kandidat Paus Berikutnya: Kejutan dari Asia Tenggara?

Redaksi

15 Kandidat Paus Berikutnya: Kejutan dari Asia Tenggara?
Sumber: Pikiran-rakyat.com

Kepergian Paus Fransiskus pada 21 April 2025 meninggalkan duka mendalam bagi umat Katolik global. Kepemimpinan Paus yang dikenal progresif dan peduli pada kaum marginal menutup sebuah babak penting dalam sejarah Gereja. Dunia kini menanti siapa penerusnya. Proses pemilihan Paus baru, yang melibatkan Konklaf para Kardinal di bawah usia 80 tahun, akan menentukan arah Gereja Katolik di masa depan.

Kandidat Terkuat dari Eropa

Persaingan untuk menjadi Paus berikutnya sangat ketat. Beberapa kandidat kuat berasal dari Eropa, masing-masing dengan kekuatan dan kelemahannya.

Pietro Parolin, Sekretaris Negara Vatikan, merupakan kandidat kuat karena pengalamannya yang luas dalam diplomasi internasional. Keahliannya dalam bernegosiasi, termasuk perjanjian kontroversial dengan Tiongkok, menjadikannya figur penting bagi Vatikan.

Matteo Maria Zuppi, Uskup Agung Bologna, dikenal karena dedikasinya pada perdamaian. Perannya sebagai utusan khusus dalam konflik Ukraina menunjukkan komitmennya pada penyelesaian damai. Ia juga dikenal sebagai pendukung kaum miskin dan komunitas LGBTQ.

Beberapa kandidat lain dari Eropa yang juga patut diperhitungkan adalah Pierbattista Pizzaballa (Patriark Latin Yerusalem), Jean-Claude Hollerich (Yesuit berpengalaman di Asia), Claudio Gugerotti (ahli diplomasi yang menjembatani Gereja Barat dan Timur), Jean-Marc Aveline (Uskup Agung Marseille yang aktif dalam dialog antaragama), dan Mario Grech (Sekretaris Jenderal Sinode Para Uskup). Meskipun Anders Arborelius (Kardinal pertama dari Swedia) dan Péter Erdő (Uskup Agung Esztergom-Budapest) juga masuk dalam daftar, usia mereka yang mendekati batas usia Konklaf dan berbagai kontroversi yang menyertai keduanya mengurangi peluang mereka.

Kandidat dari Luar Eropa: Harapan untuk Kepemimpinan Baru

Potensi Paus dari luar Eropa juga sangat dinantikan. Asia dan Afrika, yang memiliki jumlah umat Katolik yang signifikan, menawarkan kandidat dengan perspektif dan pengalaman yang berbeda.

Luis Antonio Tagle dari Filipina, mantan Uskup Agung Manila, dikenal karena kharismanya dan advokasi untuk keadilan sosial dan korban kekerasan seksual. Kepopulerannya di kalangan umat Katolik global menjadikannya kandidat yang kuat.

Charles Maung Bo dari Myanmar, Uskup Agung Yangon, adalah tokoh kunci dalam perdamaian dan hak asasi manusia, khususnya bagi etnis Rohingya. Pengalamannya dalam menghadapi konflik di negaranya dapat menjadi aset berharga bagi Gereja.

Dari Afrika, Peter Turkson dari Ghana, mantan Presiden Dikasteri untuk Promosi Pembangunan Manusia Integral, dipandang sebagai kandidat potensial sebagai Paus pertama dari Afrika. Visinya yang progresif tentang isu sosial dapat membawa perubahan signifikan bagi Gereja. Fridolin Ambongo Besungu dari Republik Demokratik Kongo, Uskup Agung Kinshasa, juga merupakan figur penting yang mewakili suara Afrika dalam Gereja Katolik.

Kandidat dari Amerika dan Prediksi Hasil Konklaf

Amerika Serikat juga memiliki beberapa kandidat yang layak dipertimbangkan. Robert Francis Prevost, Prefek Dikasteri untuk Uskup, memadukan pengalaman pastoral Amerika Latin dengan kemampuan administrasi Vatikan. Sementara Timothy Dolan, Uskup Agung New York, dikenal luas di media namun memegang pandangan teologis yang lebih konservatif.

Memprediksi hasil Konklaf selalu sulit. Namun, beberapa nama seperti Pietro Parolin, Luis Antonio Tagle, dan Matteo Maria Zuppi sering disebut sebagai kandidat terkuat. Parolin menawarkan stabilitas diplomatik, Tagle mewakili pertumbuhan Gereja di Asia, dan Zuppi memiliki kemampuan untuk menjembatani perbedaan antara kelompok progresif dan tradisional dalam Gereja. Sejarah telah membuktikan bahwa Konklaf dapat menghasilkan kejutan, seperti terpilihnya Jorge Mario Bergoglio sebagai Paus Fransiskus.

Proses pemilihan Paus baru merupakan momen penting bagi Gereja Katolik. Bukan hanya memilih pemimpin spiritual, tetapi juga menentukan arah kepemimpinan diplomatik Vatikan di masa depan. Dunia menanti dengan penuh harap siapa yang akan terpilih untuk memimpin Gereja Katolik menuju era baru.

Also Read

Tags

Leave a Comment