Benarkah Tempo Dibeli MDIF? Fakta Mengejutkan Soal Dana & Tujuannya

Redaksi

Benarkah Tempo Dibeli MDIF? Fakta Mengejutkan Soal Dana & Tujuannya
Sumber: Pikiran-rakyat.com

Belakangan ini, media sosial diramaikan oleh narasi yang menuduh majalah Tempo menerima pendanaan dari Media Development Investment Fund (MDIF) untuk menghambat kemajuan dan memprovokasi perpecahan di Indonesia. Tuduhan ini perlu ditelusuri kebenarannya dengan mengedepankan fakta dan data yang valid.

Beredar berbagai unggahan di platform media sosial, mulai dari cuitan hingga video, yang mengaitkan Tempo dengan MDIF dan George Soros, menuding mereka sebagai dalang di balik upaya untuk memecah belah bangsa.

Analisis Tuduhan Terhadap Tempo dan MDIF

Salah satu unggahan yang viral datang dari akun @Elvianadwirizki. Unggahan tersebut menampilkan foto Lokataru Foundation dan Haris Azhar, serta narasi yang secara langsung menuduh Tempo menerima dana dari MDIF yang terkait dengan George Soros.

Selain unggahan tersebut, beredar juga video di TikTok dan WhatsApp yang menggabungkan potongan pidato Prabowo Subianto, cuplikan podcast “Bocor Alus Politik” milik Tempo, dan kilas balik krisis moneter 1997-1998. Video ini secara implisit mengaitkan MDIF dan George Soros dengan krisis tersebut.

Membongkar Klaim Pendanaan dan Dampaknya

MDIF: Lebih dari Sekadar Pendanaan Soros

MDIF, sebuah lembaga nirlaba yang terdaftar di New York, didirikan pada tahun 1995. Tujuan utama MDIF adalah mendukung media independen di negara-negara yang baru lepas dari rezim otoritarian.

Meskipun George Soros memang tercatat sebagai investor awal MDIF, perlu dipahami bahwa saat ini MDIF didukung oleh lebih dari 70 lembaga. Artinya, Soros bukanlah satu-satunya, dan pengaruhnya terhadap MDIF telah berkurang secara signifikan seiring berjalannya waktu. Hingga tahun 2025, MDIF telah berinvestasi di 154 media independen di 48 negara, termasuk empat media di Indonesia.

Independensi Tempo Tetap Terjaga

Investasi MDIF ke PT Info Media Digital (IMD), anak usaha Tempo yang bergerak di bidang digital, berupa surat utang konversibel, bukan pembelian saham. Hal ini memastikan mayoritas saham IMD tetap berada di tangan PT Tempo Inti Media Tbk.

Baik CEO Tempo Digital, Wahyu Dhyatmika, maupun Pemimpin Redaksi Tempo, Setri Yasra, menegaskan bahwa investasi MDIF tidak mempengaruhi independensi redaksi. Tempo memiliki beragam sumber pendapatan, termasuk iklan, sponsorship, riset, dan layanan berlangganan, sehingga pendanaan dari MDIF bukanlah satu-satunya sumber pendapatan utama.

Krisis Moneter 1997-1998: Perspektif yang Lebih Luas

Menuding George Soros sebagai satu-satunya penyebab krisis moneter 1997-1998 adalah penyederhanaan yang berlebihan dan tidak akurat.

Studi-studi seperti “Hedge Funds and the Asian Currency Crisis of 1997” oleh Brown dkk (1998) dan laporan IMF menunjukkan bahwa krisis tersebut merupakan masalah kompleks yang melibatkan faktor-faktor ekonomi domestik yang rapuh, utang luar negeri yang tinggi, dan tata kelola yang buruk di beberapa negara Asia, termasuk Indonesia. Peran Soros hanyalah sebagian kecil dari gambaran yang lebih besar.

Direktur Eksekutif INDEF, Esther Sri Astut, menambahkan bahwa kekuatan ekonomi domestik suatu negara menjadi faktor penentu dalam menghadapi krisis eksternal. Indonesia yang memiliki ekonomi kuat akan lebih tahan terhadap dampak krisis yang berasal dari negara lain.

Kesimpulan dan Imbauan

Berdasarkan fakta dan data yang telah diuraikan, tuduhan yang mengaitkan Tempo dengan upaya pemecah belah bangsa melalui pendanaan MDIF terbukti tidak berdasar. Investasi MDIF ke Tempo bersifat terbatas dan tidak memberikan kendali atas independensi redaksi. Selain itu, mempersempit penyebab krisis moneter 1997-1998 hanya pada peran George Soros adalah pandangan yang terlalu menyederhanakan dan keliru.

Ke depan, penting bagi masyarakat untuk senantiasa bersikap kritis dan bijak dalam mencerna informasi di media sosial. Verifikasi informasi dari berbagai sumber terpercaya sebelum menyebarkannya lebih lanjut dapat mencegah penyebaran informasi yang menyesatkan dan memecah belah.

Also Read

Tags

Leave a Comment