Klaim mengejutkan beredar di media sosial X. Sebuah unggahan menampilkan artikel berita—yang diklaim berasal dari media nasional—mengatakan bahwa Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno lebih menyukai Anies Baswedan sebagai Wakil Presiden daripada Gibran Rakabuming Raka. Unggahan tersebut menyertakan kutipan judul yang provokatif: “TRY SUTRISNO : GIBRAN LEBIH BAIK DIGANTIKAN ANIES RASYID BASWEDAN YANG LEBIH BERPENGALAMAN.” Narasi ini langsung memicu perdebatan panas di kalangan warganet. Namun, benarkah pernyataan tersebut?
Investigasi Fakta: Klaim Try Sutrisno Dibantah
Tim investigasi Pikiran Rakyat telah melakukan penelusuran menyeluruh. Hasilnya, klaim tersebut terbukti tidak benar atau hoaks. Pencarian dengan kata kunci judul artikel yang diklaim tidak menemukan hasil yang valid di situs web media nasional yang dimaksud. Artikel tersebut sama sekali tidak pernah dipublikasikan.
Kesimpulan sementara menunjukkan adanya kemungkinan manipulasi digital atau deepfake. Judul artikel yang beredar diduga kuat merupakan hasil rekayasa untuk menciptakan narasi palsu dan provokatif.
Pernyataan Sikap Forum Purnawirawan Prajurit TNI
Bukti lain yang membantah klaim tersebut adalah pernyataan sikap dari Forum Purnawirawan Prajurit TNI. Pernyataan yang ditandatangani oleh sejumlah tokoh militer senior, termasuk Try Sutrisno, memang membahas aspirasi pergantian Wakil Presiden.
Meskipun pernyataan tersebut menyinggung aspirasi pergantian Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka oleh MPR, tidak ada satupun pernyataan dari Try Sutrisno yang secara spesifik menyebutkan Anies Baswedan sebagai calon pengganti.
Bahaya Hoaks dan Disinformasi di Era Digital
Maraknya penyebaran hoaks dan disinformasi di era digital sangat memprihatinkan. Media sosial, yang seharusnya menjadi wadah informasi dan komunikasi, sering disalahgunakan untuk menyebarkan berita palsu dan memanipulasi opini publik.
Dampak hoaks di ranah politik sangat serius. Informasi palsu dapat memicu konflik sosial, merusak kepercayaan publik terhadap lembaga negara, dan mengancam stabilitas politik. Penting bagi masyarakat untuk meningkatkan literasi digital dan kemampuan verifikasi informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya.
Masyarakat perlu bijak dalam menyikapi informasi di media sosial. Selalu lakukan pengecekan fakta dan verifikasi dari berbagai sumber tepercaya sebelum percaya dan menyebarkan informasi. Hanya informasi yang akurat dan terverifikasi yang mampu membangun dialog publik yang sehat dan konstruktif. Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya literasi digital dan kewaspadaan terhadap upaya disinformasi yang bertujuan memecah belah. Informasi yang bertanggung jawab adalah kunci untuk menjaga stabilitas dan persatuan bangsa. Mari kita bersama-sama melawan penyebaran hoaks dan disinformasi.





