Kekurangan Nutrisi Anak: Waspadai Gejala Tersembunyi & Dampaknya

Redaksi

Kekurangan Nutrisi Anak: Waspadai Gejala Tersembunyi & Dampaknya
Sumber: Pikiran-rakyat.com

Kekurangan nutrisi bisa terjadi meskipun Anda makan teratur. Gejalanya seringkali muncul sebagai keluhan ringan yang mudah diabaikan. Padahal, ini bisa jadi sinyal bahaya yang perlu diperhatikan. Mari kita telusuri lebih dalam tanda-tanda kekurangan nutrisi dan dampaknya bagi kesehatan.

Salah satu tanda awal kekurangan nutrisi adalah kram otot. Rendahnya kadar magnesium, kalium, atau kalsium seringkali menjadi penyebabnya.

Kondisi ini lebih sering terjadi pada individu yang sering berkeringat atau mengalami dehidrasi. Penting untuk memperhatikan asupan cairan dan elektrolit.

Tanda-Tanda Kekurangan Nutrisi yang Sering Diabaikan

Menggertakkan gigi saat malam hari, yang sering dikaitkan dengan stres atau gangguan tidur, bisa juga menandakan kekurangan magnesium dan vitamin B.

Rambut rontok berlebihan merupakan tanda defisiensi zat besi, zinc, protein, dan omega-3. Wanita lebih rentan mengalami kondisi ini.

Gangguan kognitif ringan atau “kabut otak” bisa disebabkan oleh kekurangan omega-3, khususnya DHA. DHA penting untuk fungsi otak dan dapat diperoleh dari ikan berlemak atau suplemen minyak ikan.

Kesemutan dan mati rasa di ujung jari tangan dan kaki menandakan defisiensi vitamin B12. Kelompok usia di atas 50 tahun dan vegan perlu waspada.

Mereka disarankan untuk mempertimbangkan suplemen vitamin B12 sebagai tindakan pencegahan.

Dampak Kekurangan Nutrisi pada Perkembangan Anak

Pemenuhan nutrisi optimal selama 1.000 hari pertama kehidupan (270 hari dalam kandungan dan 730 hari setelah lahir) sangat krusial.

Periode ini menentukan pertumbuhan dan perkembangan otak anak. Kekurangan gizi dapat menurunkan tingkat intelektual hingga 10 poin.

Penelitian menunjukkan 65 persen individu yang mengalami kekurangan gizi di masa kecil hanya memiliki IQ sekitar 90 saat dewasa. 20 persen lainnya bahkan memiliki IQ sekitar 70.

Kekurangan gizi juga dikaitkan dengan stunting. Stunting tidak hanya mempengaruhi tinggi badan, tetapi juga perkembangan otak.

Anak dengan stunting mengalami gangguan kemampuan mengingat, prestasi belajar, dan fungsi motorik sensorik.

Meskipun dapat diperbaiki, anak yang pernah mengalami kekurangan gizi tidak akan melampaui kemampuan anak dengan gizi tercukupi sejak awal.

Anak yang mengalami stunting juga berisiko lebih tinggi mengalami obesitas di masa dewasa dan lebih rentan terhadap penyakit tidak menular.

Masalah Gizi Ganda di Indonesia

Indonesia menghadapi masalah gizi ganda: kekurangan gizi dan kelebihan asupan (obesitas).

Kedua kondisi ini sama-sama membahayakan kesehatan jangka panjang. Penting untuk menjaga keseimbangan asupan nutrisi.

Pendekatan holistik yang memperhatikan pola makan seimbang dan gaya hidup sehat sangat diperlukan untuk mencegah kekurangan maupun kelebihan nutrisi.

Konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi untuk memastikan Anda mendapatkan nutrisi yang cukup dan tepat sesuai kebutuhan tubuh.

Perhatian terhadap asupan nutrisi sejak dini sangat penting untuk menjamin kesehatan dan perkembangan optimal bagi setiap individu.

Also Read

Tags

Leave a Comment