Di era digital saat ini, media sosial tak hanya menjadi tempat berjejaring, tetapi juga wadah edukasi kesehatan yang efektif. Banyak dokter memanfaatkan platform ini untuk menjangkau masyarakat luas, memberikan informasi penting tentang kesehatan, dan mendorong gaya hidup sehat. Salah satu contohnya adalah dr. Bobby Arfhan Anwar, Sp.JP(K), FIHA, yang meraih penghargaan Digital Health Influencer Award 2024 atas kontribusinya dalam edukasi kesehatan jantung.
Kisah sukses dr. Bobby menginspirasi banyak dokter lain untuk turut serta dalam gerakan edukasi kesehatan digital. Mereka memanfaatkan kreativitas dan platform media sosial yang beragam untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan dengan cara yang mudah dipahami dan menarik.
Dokter dan Pengaruhnya di Media Sosial
Dr. Bobby Arfhan Anwar, dengan akun Instagram @dr.bobbyjantung, menawarkan pendekatan unik dalam edukasi kesehatan. Ia merespon video netizen yang menampilkan gaya hidup tidak sehat, misalnya merokok sambil berjingkrak-jingkrak, dengan gestur menggunakan APD lengkap dan tulisan “Calon Customer yang Berbahagia”. Ini menunjukkan bahaya gaya hidup tidak sehat secara kreatif dan menarik perhatian.
Konten edukatif dr. Bobby berfokus pada bahaya rokok, vape, dan penyakit kardiovaskular. Ia menjelaskan dengan sederhana bahwa penyakit kardiovaskular merupakan “silent killer”, mengingatkan pentingnya gaya hidup sehat.
Data WHO tahun 2019 menunjukkan 17,9 juta kematian akibat penyakit kardiovaskular setiap tahunnya. Di Indonesia sendiri, angka kematian akibat penyakit kardiovaskular sangat tinggi, mencapai 651.481 kasus pada tahun 2019 menurut IMHE.
Ketua Perki, dr. Ade Miedian Ambari, menekankan pentingnya pencegahan komprehensif, mulai dari promosi gaya hidup sehat hingga rehabilitasi pasca-serangan jantung. Edukasi dan kolaborasi menjadi kunci utama dalam upaya pencegahan penyakit kardiovaskular.
Edukasi Kesehatan yang Menyentuh Hati
Dr. Nevin Chandra Juarsa, Sp.A, M.Kes., adalah contoh lain dokter yang aktif membuat konten edukasi di media sosial. Kontennya yang ringan dan sederhana berhasil membantu banyak orangtua mendapatkan informasi seputar tumbuh kembang anak.
Meskipun respon positif dari netizen sangat baik, dr. Nevin tetap mengingatkan pentingnya memilih informasi dengan bijak. Tidak semua informasi di media sosial akurat, sehingga penting untuk memverifikasi informasi sebelum menerapkannya.
Dr. Ade Heryana, S.ST., MKM., Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Esa Unggul Jakarta, mengatakan edukasi media sosial meningkatkan pengetahuan masyarakat. Namun, perubahan perilaku membutuhkan pendekatan yang lebih personal dan menyentuh.
Ia menekankan bahwa konten yang menyentuh hati lebih efektif dalam mengubah perilaku, terutama pada kelompok dewasa yang cenderung sulit mengubah pola pikirnya. Faktor kedekatan dan ketokohan juga berperan penting dalam efektivitas edukasi kesehatan.
Potensi Media Sosial dalam Edukasi Kesehatan
Data APJII menunjukkan jumlah pengguna internet di Indonesia sangat besar, mencapai 221.563.479 jiwa pada tahun 2024. Penetrasi internet terus meningkat setiap tahunnya, dengan generasi Z dan milenial sebagai pengguna terbanyak.
Platform media sosial seperti YouTube, Facebook, TikTok, dan Instagram memiliki jumlah pengguna yang sangat besar di Indonesia, menunjukkan potensi yang luar biasa untuk edukasi kesehatan.
Riset UMN Consulting menunjukkan konten review produk, lifestyle, tren terkini, hobi, dan informasi viral menjadi topik terpopuler di media sosial bagi generasi Z. Hal ini penting untuk diperhatikan dalam merancang strategi edukasi kesehatan yang efektif.
Jurnal Komunikasi Kesehatan di Platform Digital menunjukkan bahwa format konten visual lebih efektif dalam penyampaian informasi kesehatan. Tingkat engagement di media sosial juga menunjukkan potensi besar untuk optimalisasi strategi komunikasi kesehatan digital.
Kesimpulannya, dokter semakin aktif menggunakan media sosial untuk menyampaikan edukasi kesehatan. Pendekatan yang kreatif, informasi yang akurat dan terpercaya, serta konten yang menyentuh hati merupakan kunci dalam mencapai tujuan edukasi kesehatan yang efektif di era digital.
Keberhasilan upaya ini bergantung pada komitmen para tenaga kesehatan dan juga kesadaran masyarakat untuk memilih dan memanfaatkan informasi dengan bijak. Dengan kerja sama yang baik, media sosial dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat dalam meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia.





