Penumpang KRL Tanjung Barat mengeluhkan akses baru stasiun yang terhubung langsung ke Apartemen Samesta Mahata. Akses baru ini, yang diuji coba oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 1 Jakarta, menyebabkan waktu tempuh ke peron menjadi lebih lama karena rute yang lebih memutar. Para penumpang merasa akses ini kurang efisien dan menimbulkan ketidaknyamanan.
Para pengguna KRL Tanjung Barat sebelumnya dapat langsung mengakses stasiun melalui jembatan penyeberangan orang (JPO). Kini, jalur tersebut tidak lagi digunakan, memaksa penumpang untuk menempuh rute yang lebih jauh dan berbelok.
Rute Baru Membutuhkan Waktu Tempuh Lebih Lama
Nia (28), seorang penumpang KRL, mengungkapkan rasa ketidakpuasannya terhadap perubahan akses stasiun. Ia menjelaskan bahwa perjalanan menuju peron kini jauh lebih panjang dan melelahkan.
Sebelum adanya akses baru, Nia bisa langsung naik JPO menuju stasiun. Kini, ia harus memutar jauh, meskipun telah tersedia papan penunjuk arah.
Meskipun papan penunjuk arah membantu, jarak tempuh yang lebih panjang tetap menjadi kendala. Nia merasa rute baru ini membuat perjalanan ke stasiun menjadi jauh lebih melelahkan.
Senada dengan Nia, Lika (27), penumpang KRL lainnya juga menyayangkan perubahan tersebut. Ia berharap KAI melakukan evaluasi terhadap akses baru ini.
Lika, yang setiap hari menggunakan KRL untuk bekerja, merasa kelelahan karena tambahan jarak tempuh yang harus ditempuhnya.
Ia menambahkan bahwa akses menuju stasiun yang sebelumnya dekat dengan JPO kini harus memutar jauh, dan menemukan rute alternatif lainnya juga berisiko karena lalu lintas kendaraan yang ramai.
KAI Akui Penambahan Waktu Tempuh, Lakukan Evaluasi
PT KAI Daop 1 Jakarta telah mengakui bahwa akses baru yang terhubung ke Apartemen Samesta Mahata memang menambah waktu tempuh penumpang.
Vice President Public Relations KAI, Anne Purba, menyatakan bahwa evaluasi awal menunjukkan penambahan waktu tempuh sekitar enam menit dari hunian ke peron.
Meski demikian, KAI juga menyebut adanya respon positif dari beberapa penumpang karena jalur alternatif ini dinilai lebih tenang dan langsung menuju peron.
Uji Coba dan Masukan Penumpang
Uji coba akses baru ini dilakukan pada pukul 06.00-08.00 WIB dan diawasi oleh petugas KAI. Selama uji coba, beberapa penumpang memberikan masukan.
Salah satu masukan yang diberikan adalah usulan agar gate akses baru dapat difungsikan dua arah untuk efisiensi, khususnya pada jam sibuk.
KAI juga menyampaikan permohonan maaf atas gangguan teknis eskalator yang sempat terjadi selama jam sibuk. KAI menjanjikan peningkatan keandalan fasilitas sebagai prioritas dalam tahap penyempurnaan selanjutnya.
Harapan Akan Perbaikan dan Evaluasi Lanjutan
Keluhan penumpang terkait akses baru stasiun Tanjung Barat menyoroti pentingnya perencanaan dan evaluasi yang komprehensif dalam pembangunan infrastruktur transportasi.
Pertimbangan kenyamanan dan efisiensi pengguna jasa transportasi publik harus menjadi prioritas utama dalam setiap proyek pembangunan.
Diharapkan KAI dapat segera melakukan evaluasi menyeluruh dan mengambil langkah-langkah perbaikan untuk mengatasi masalah waktu tempuh yang lebih lama dan ketidaknyamanan yang dialami para penumpang.
Ke depannya, proses perencanaan pembangunan infrastruktur sejenis perlu melibatkan masukan langsung dari pengguna agar tercipta akses yang benar-benar ramah dan efisien bagi para penumpang KRL.





