Industri pariwisata Amerika Serikat (AS) tengah menghadapi tantangan serius. Jumlah kunjungan wisatawan internasional mengalami penurunan signifikan pada kuartal pertama tahun 2025. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bagi pelaku bisnis pariwisata dan berdampak luas pada perekonomian AS.
Data terbaru menunjukkan penurunan 3,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hanya 7,1 juta wisatawan internasional yang memasuki AS pada periode tersebut. Penurunan ini menjadi sorotan utama, khususnya bagi perusahaan perjalanan besar seperti Expedia.
Penurunan Drastis Kunjungan Wisatawan Internasional ke AS
Expedia, yang mengelola platform Hotels.com, VRBO, dan agen perjalanan online, melaporkan perlambatan bisnis. Hal ini disebabkan penurunan jumlah wisatawan internasional dan domestik.
Penurunan minat wisatawan ini berdampak signifikan pada perekonomian AS. Banyak maskapai penerbangan utama AS mengurangi jadwal penerbangan mereka karena penurunan jumlah pemesanan tiket kelas ekonomi untuk liburan.
Asosiasi Perjalanan AS mengaitkan penurunan ini dengan ketidakpastian ekonomi dan kekhawatiran atas kebijakan tarif Presiden Donald Trump. Kepercayaan konsumen terhadap ekonomi AS memang merosot selama lima bulan berturut-turut hingga mencapai titik terendah sejak pandemi.
Bank of America mencatat penurunan pengeluaran untuk penerbangan dan akomodasi. Ini semakin menguatkan indikasi kekhawatiran konsumen terhadap prospek ekonomi. Kebijakan tarif Trump juga dianggap sebagai faktor penyebab.
Perubahan Tren Perjalanan: Destinasi Amerika Latin Lebih Diminati
Tren perjalanan internasional menunjukkan pergeseran signifikan. Pelancong dari Eropa dan Kanada kini lebih memilih destinasi di Amerika Latin daripada AS.
Scott Schenkel, Kepala Keuangan Expedia, melaporkan penurunan pemesanan perjalanan ke AS dari Kanada hingga hampir 30 persen. Sebaliknya, permintaan perjalanan ke Meksiko dan Brasil meningkat tajam.
Airbnb juga mencatat tren serupa. Ellie Mertz, Kepala Keuangan Airbnb, menyatakan peningkatan perjalanan domestik warga Kanada dan perjalanan ke negara-negara seperti Meksiko, Brasil, dan Jepang.
CEO Expedia, Ariane Gorin, mengamati penurunan permintaan perjalanan ke AS pada April dibandingkan Maret. Namun, ia juga melihat sedikit perbaikan, dengan peningkatan perjalanan ke Amerika Latin meskipun perjalanan ke AS dari Eropa masih rendah.
Meski demikian, beberapa pemimpin industri tetap optimis. Christopher Nassetta, Presiden dan CEO Hilton, yakin akan pemulihan pada paruh kedua tahun 2025. Ia berharap ketidakpastian ekonomi akan mereda.
Aturan Perjalanan Baru Pemerintah AS dan Dampaknya
Pada Maret 2025, pemerintahan Trump dikabarkan mempertimbangkan aturan perjalanan baru untuk warga negara dari berbagai negara. The New York Times melaporkan adanya draf daftar 43 negara dengan tiga kategori pembatasan.
Kategori merah berisi negara-negara yang warganya akan dilarang masuk AS sepenuhnya. Beberapa negara di kategori ini antara lain Afghanistan, Kuba, Iran, Korea Utara, dan Venezuela.
Kategori oranye mencakup negara-negara dengan pembatasan visa yang ketat. Negara-negara seperti Rusia dan Belarusia termasuk dalam kategori ini. Hanya pelancong bisnis kaya yang mungkin diizinkan masuk.
Kategori kuning terdiri dari 22 negara yang diberi waktu 60 hari untuk mengatasi masalah yang disoroti AS. Jika tidak, mereka berisiko dipindahkan ke kategori yang lebih ketat.
Gedung Putih belum memberikan komentar resmi mengenai draf aturan perjalanan baru tersebut. Peraturan ini merupakan bagian dari perintah eksekutif yang ditandatangani Trump pada Januari 2025.
Perintah eksekutif tersebut bertujuan melindungi AS dari ancaman terorisme dan pelanggaran keamanan nasional. Selama kampanyenya, Trump berjanji untuk memberlakukan kembali larangan perjalanan seperti pada masa jabatan pertamanya.
Kesimpulannya, penurunan drastis kunjungan wisatawan internasional ke AS merupakan isu kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Ketidakpastian ekonomi, kebijakan tarif, dan potensi aturan perjalanan baru semuanya berperan dalam penurunan ini. Meskipun ada optimisme untuk pemulihan, tantangan yang dihadapi industri pariwisata AS masih cukup besar dan memerlukan strategi yang komprehensif untuk mengatasinya.





