Pesawat: Jatah Makanan Tambahan, Baik atau Buruk?

Redaksi

Pesawat: Jatah Makanan Tambahan, Baik atau Buruk?
Sumber: Liputan6.com

Permintaan penumpang pesawat akan jatah makanan tambahan telah memicu perdebatan hangat di dunia maya. Sebagian netizen menganggapnya sebagai perilaku kurang sopan, bahkan “mental pengemis,” sementara yang lain melihatnya sebagai tindakan wajar yang dapat mencegah pemborosan makanan.

Perdebatan ini bermula dari sebuah unggahan di X (sebelumnya Twitter) yang memberikan tips perjalanan, menyarankan penumpang untuk menanyakan sisa makanan kepada pramugari. Pengguna tersebut berpendapat bahwa makanan yang tidak terpakai akan dibuang, sehingga lebih baik dikonsumsi penumpang yang masih lapar.

Praktik Minta Makanan Tambahan di Pesawat

Lalu, bagaimana sebenarnya praktik ini dalam dunia penerbangan? Sebuah wawancara dengan juru bicara Virgin Atlantic yang dilansir Tasting Table menyatakan bahwa maskapai hampir selalu mengabulkan permintaan makanan tambahan dari penumpang.

Kebijakan serupa juga diterapkan oleh maskapai penerbangan lainnya. Hal ini berlaku tidak hanya untuk makanan ringan seperti kacang atau keripik, tetapi juga makanan berat yang tersisa setelah layanan utama selesai.

Namun, ada etika yang perlu diperhatikan. Sebaiknya permintaan diajukan setelah semua penumpang telah dilayani. Meskipun berisiko dianggap serakah oleh sesama penumpang, awak kabin umumnya lebih senang memberikan sisa makanan daripada membuangnya.

Pengecualian dalam Pemberian Makanan Tambahan

Meskipun umumnya permintaan makanan tambahan dipenuhi, ada beberapa pengecualian. Penumpang kelas ekonomi tidak dapat berharap mendapatkan makanan kelas bisnis secara cuma-cuma.

Selain perbedaan harga yang signifikan, maskapai hanya menyediakan jumlah makanan tertentu sesuai dengan jumlah penumpang di kelas tersebut. Makanan kelas bisnis biasanya sudah diperhitungkan secara tepat untuk setiap penumpang.

Saat meminta makanan tambahan, terimalah apa yang tersedia. Sebelum penerbangan, penumpang kelas ekonomi mungkin bisa memilih menu atau meminta alternatif tertentu. Namun, setelah di tempat duduk, pilihan yang bisa diberikan awak kabin menjadi terbatas.

Perlu diingat bahwa beberapa maskapai, terutama maskapai berbiaya rendah pada penerbangan jarak pendek, tidak menyediakan makanan gratis. Mereka hanya menyediakan makanan dan minuman yang bisa dibeli di dalam pesawat.

Nasib Makanan Sisa dalam Penerbangan

Makanan sisa penerbangan biasanya dibuang dan dimusnahkan. Makanan ini seringkali tidak dikompos dan berakhir menjadi limbah, bahkan jika belum dibuka.

Hal ini dikarenakan makanan sisa dianggap terkontaminasi dan berpotensi menyebarkan penyakit. Kebijakan ini standar di industri penerbangan internasional maupun nasional. Maskapai biasanya mengangkut sisa makanan ke fasilitas pembuangan untuk dibakar.

Terkadang, sisa makanan dikubur. Namun, upaya pengurangan limbah makanan terus dilakukan. Cathay Pacific, misalnya, mengirimkan sisa makanan untuk diolah menjadi pakan ikan.

Sayangnya, keracunan makanan di masa lalu menghambat upaya penyumbangan makanan sisa ke bank makanan. Meski demikian, beberapa maskapai telah berupaya meningkatkan praktik pengelolaan sisa makanan.

Upaya Mengurangi Limbah Makanan Penerbangan

Maskapai penerbangan juga memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mengurangi sampah makanan. AI membantu memprediksi jumlah penumpang dan memesan makanan sesuai kebutuhan, meminimalkan pemborosan.

Penumpang juga dapat berkontribusi dengan memesan makanan di pesawat sebelumnya. Namun, perlu diingat bahwa beberapa maskapai mengenakan biaya tambahan untuk makanan, yang dapat mengurangi permintaan dan mengurangi limbah.

Rasa makanan yang berbeda di pesawat terkadang membuat penumpang sulit menghabiskan makanannya. Tips sederhana: bawa saus kesukaan Anda dalam wadah kecil untuk meningkatkan cita rasa makanan.

Audit IATA dan beberapa maskapai menunjukkan bahwa 20-25 persen limbah kabin adalah makanan dan minuman yang tidak disentuh. Maskapai penerbangan membuang sumber daya senilai 2-3 miliar dolar AS setiap tahunnya.

Kesimpulannya, meskipun permintaan makanan tambahan bisa menjadi kontroversial, mempertimbangkan aspek efisiensi dan pengurangan sampah makanan, perlu pendekatan yang seimbang. Etika dan pemahaman kebijakan masing-masing maskapai sangat penting untuk diperhatikan baik oleh penumpang maupun maskapai.

Also Read

Tags

Leave a Comment