Li Si Xuan, mantan pemenang kontes kecantikan di Shenzhen, Tiongkok, baru-baru ini terjerat kasus pemalsuan ijazah. Ia terungkap telah memalsukan dokumen akademik untuk melanjutkan studi di Universitas Hong Kong (HKU). Skandal ini mengungkap bagaimana seorang figur publik ternama bisa terlibat dalam tindakan penipuan akademik.
Kasus ini bermula pada tahun 2021 ketika Li Si Xuan, yang saat itu berusia 28 tahun, mendaftar ke program Magister Linguistik Terapan di HKU. Dalam lamarannya, ia mengklaim telah menyelesaikan program sarjana linguistik di Universitas Columbia, New York. Pihak HKU kemudian menerima dan memproses lamaran tersebut.
Skandal Ijazah Palsu Ratu Kecantikan
Li Si Xuan menyertakan ijazah dan sertifikat palsu sebagai syarat pendaftaran. Setelah penyelidikan, Universitas Columbia membantah pernah menerima Li Si Xuan sebagai mahasiswi.
HKU melakukan investigasi setelah menerima laporan mengenai mahasiswa yang memalsukan ijazah. Li Si Xuan diketahui termasuk dalam kelompok mahasiswa tersebut. Ia tidak hanya memalsukan ijazah sarjananya, tetapi juga memanipulasi hasil studinya di tingkat magister.
Pengakuan dan Hukuman Li Si Xuan
Li Si Xuan mengaku telah membayar 380.000 yuan (sekitar Rp879 juta) kepada sebuah agensi bernama “Academic Emperor” untuk memalsukan ijazah dan transkripnya. Ia mengaku telah mengikuti kursus daring yang diklaim sebagai program Universitas Columbia, lalu menerima sertifikat kelulusan palsu dari agensi tersebut.
Ia mengakui dua pelanggaran di pengadilan: pemalsuan ijazah untuk masuk HKU dan pemalsuan hasil studi magister. Meskipun pengadilan menemukan bahwa tindakannya tidak memengaruhi penerimaan mahasiswa lain, Li Si Xuan tetap dijatuhi hukuman penjara 240 hari. Hukuman tersebut lebih ringan dari hukuman awal 300 hari karena pengakuan bersalahnya.
Peran Agensi “Academic Emperor”
Agensi “Academic Emperor” memainkan peran kunci dalam kasus ini. Mereka tidak hanya memalsukan dokumen akademik, tetapi juga membantu Li Si Xuan menghindari deteksi. Investigasi lebih lanjut diperlukan untuk mengungkap jaringan dan operasi agensi ini.
Pencopotan Gelar Ratu Kecantikan Lainnya
Kasus Li Si Xuan bukan satu-satunya skandal yang menimpa dunia kontes kecantikan di Tiongkok. Bulan lalu, Xinying Zhu, pemenang Miss Universe China 2024, dicopot gelarnya. Hal ini disebabkan oleh aturan dan batasan usia yang menghalanginya untuk menjalankan tugas sebagai ratu kecantikan.
Suchata Chuangsri, runner-up ketiga Miss Universe 2024, juga mengalami pencopotan gelar. Ia melanggar kontrak dengan mengikuti kontes kecantikan lain. Kedua kasus ini menyoroti pentingnya integritas dan kepatuhan terhadap peraturan dalam dunia kontes kecantikan.
Dampak Kasus Terhadap Dunia Kontes Kecantikan
Serangkaian pencopotan gelar ini memberikan dampak negatif bagi reputasi dunia kontes kecantikan di Tiongkok. Hal ini juga menimbulkan pertanyaan tentang proses seleksi dan pengawasan yang diterapkan oleh penyelenggara. Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya integritas dan transparansi dalam berbagai kompetisi.
Kasus Li Si Xuan dan pencopotan gelar beberapa ratu kecantikan lainnya menjadi sorotan penting. Kasus ini bukan hanya soal penipuan akademik, tetapi juga menyoroti pentingnya integritas dan kejujuran, baik dalam dunia pendidikan maupun dunia hiburan. Semoga kasus ini dapat menjadi pelajaran berharga agar kejadian serupa tidak terulang kembali.





