Sering lupa meletakkan barang? Mudah terdistraksi saat belajar atau bekerja? Terlalu banyak bicara dan sulit duduk tenang? Gejala-gejala ini mungkin mengindikasikan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Sayangnya, ADHD pada anak sering disalahpahami sebagai ketidakpintaran, kurangnya tata krama, atau bahkan kenakalan. Pemahaman yang tepat tentang ADHD sangat krusial untuk memberikan dukungan yang tepat bagi anak-anak yang mengalaminya.
Mengenal ADHD: Gangguan Neurodevelopmental yang Perlu Dipahami
ADHD, menurut DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, edisi ke-5), adalah gangguan neurodevelopmental. Hal ini ditandai dengan pola menetap kurangnya perhatian dan/atau hiperaktivitas-impulsivitas yang mengganggu fungsi atau perkembangan individu. Kondisi ini bukan sekadar masalah perilaku, melainkan perbedaan neurologis dalam cara otak memproses informasi.
Diagnosis ADHD harus dilakukan oleh profesional kesehatan mental yang berkualifikasi, seperti psikolog atau psikiater anak. Jangan mengandalkan informasi daring untuk menegakkan diagnosis. Penggunaan alat tes diagnostik yang terstandar juga penting untuk memastikan akurasi diagnosis.
Tiga Tipe ADHD dan Gejalanya
ADHD diklasifikasikan ke dalam tiga tipe: inatentif, hiperaktif/impulsif, dan gabungan. Tipe inatentif ditandai dengan kesulitan dalam fokus dan perhatian. Sedangkan tipe hiperaktif/impulsif ditandai dengan aktivitas fisik berlebihan dan kesulitan mengendalikan impuls. Tipe gabungan menunjukkan gejala dari kedua tipe tersebut.
ADHD Tipe Inatentif
- Sulit memperhatikan detail atau membuat kesalahan ceroboh dalam pekerjaan atau aktivitas sekolah.
- Sering kesulitan mempertahankan perhatian dalam tugas atau permainan.
- Tampak seperti tidak mendengarkan ketika diajak bicara secara langsung.
- Tidak mengikuti instruksi dan gagal menyelesaikan tugas sekolah, pekerjaan, atau kewajiban di tempat kerja.
- Sering kesulitan mengorganisir tugas dan aktivitas.
- Menghindari, merasa tidak suka, atau enggan mengerjakan tugas yang membutuhkan upaya mental yang berkelanjutan.
- Sering kehilangan barang-barang yang diperlukan untuk tugas atau aktivitas (misalnya, mainan, pekerjaan rumah, pensil, buku, alat-alat).
- Mudah teralihkan oleh rangsangan eksternal.
- Sering pelupa dalam aktivitas sehari-hari.
ADHD Tipe Hiperaktif/Impulsif
- Menggerak-gerakkan tangan atau kaki atau menggeliat di tempat duduk.
- Meninggalkan tempat duduk di kelas atau di situasi lain di mana diharapkan untuk tetap duduk.
- Berlari-lari atau memanjat secara berlebihan dalam situasi yang tidak tepat (pada remaja atau dewasa, mungkin terbatas pada perasaan gelisah).
- Kesulitan bermain atau melakukan aktivitas santai dengan tenang.
- Selalu dalam keadaan bergerak atau bertindak seolah-olah “digerakkan oleh mesin”.
- Berbicara secara berlebihan.
- Menyela percakapan orang lain atau mengganggu mereka.
- Kesulitan menunggu giliran.
- Sering bertindak tanpa memikirkan konsekuensinya.
Penting untuk diingat bahwa setiap individu dengan ADHD akan mengalami gejala dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Tidak semua individu akan mengalami semua gejala yang tercantum di atas.
Pentingnya Diagnosis Dini dan Intervensi yang Tepat
Diagnosis ADHD penting untuk memulai penanganan yang tepat. Semakin dini diagnosis ditegakkan, semakin cepat intervensi dapat dilakukan, baik berupa terapi perilaku, terapi obat-obatan, atau kombinasi keduanya. Intervensi yang tepat akan membantu anak-anak dengan ADHD untuk mengembangkan strategi koping yang efektif dan meningkatkan kualitas hidupnya.
Selain terapi, dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar sangat penting. Memahami karakteristik ADHD dan memberikan lingkungan yang mendukung akan membantu anak-anak untuk berkembang secara optimal. Ini meliputi pemahaman, kesabaran, dan adaptasi strategi pengasuhan yang sesuai.
Anak-anak dengan ADHD membutuhkan dukungan, pemahaman, dan lingkungan yang suportif. Dengan diagnosis dan intervensi yang tepat, anak-anak ini dapat berpotensi untuk mencapai prestasi dan menjalani kehidupan yang bermakna.





