7 Tipe MBTI Paling Rentan Ledakan Emosi & Amarah

Redaksi

7 Tipe MBTI Paling Rentan Ledakan Emosi & Amarah
Sumber: Kompas.com

Kita semua pernah merasakannya: amarah yang tiba-tiba meledak atau justru terpendam dalam hati. Cara kita mengelola emosi, khususnya kemarahan, sangat personal dan dipengaruhi oleh kepribadian. Penelitian kepribadian, seperti MBTI (Myers-Briggs Type Indicator), menawarkan wawasan menarik tentang bagaimana tipe kepribadian tertentu mungkin lebih rentan terhadap kesulitan mengendalikan emosi negatif. Mari kita telusuri tipe-tipe MBTI yang cenderung mengalami tantangan dalam mengatur amarah.

Tipe MBTI dengan Strategi “Turbulent”: Lebih Rentan pada Emosi Negatif

Individu dengan strategi “Turbulent” dalam MBTI umumnya lebih rentan terhadap emosi negatif, termasuk kemarahan. Mereka cenderung merasa kurang mampu mengendalikan emosi ini dibandingkan dengan mereka yang memiliki strategi “Assertive”. Keraguan diri dan frustrasi sering memicu kemarahan pada individu ini.

Ada sepuluh tipe MBTI yang termasuk dalam kategori strategi “Turbulent”: INFP-T, INFJ-T, ISFP-T, ENFP-T, ENFJ-T, ESFP-T, ESFJ-T, ISTP-T, ESTP-T, ENTP-T, dan ENTJ-T. Karakteristik umum mereka adalah kecenderungan untuk lebih emosional dan mudah tersinggung.

Tipe-tipe ini sering mengalami ledakan emosi atau menyimpan amarah secara internal. Kemampuan mereka untuk memproses dan mengelola emosi negatif membutuhkan perhatian dan strategi khusus.

Tipe MBTI Tertentu yang Sering Mengalami Kesulitan Mengatur Amarah

Beberapa tipe MBTI tertentu cenderung menunjukkan pola tertentu dalam mengelola kemarahan. Pemahaman terhadap pola ini penting untuk pengembangan strategi manajemen emosi yang efektif.

INFP (Introverted, Intuitive, Feeling, Perceiving)

INFP sering kali menahan amarah mereka. Mereka menghindari konflik dan memilih menyendiri atau mengekspresikan emosi melalui kreativitas. Namun, penekanan emosi ini bisa berbahaya. Hal ini bisa mengakibatkan akumulasi amarah yang tidak sehat dalam jangka panjang.

ISFP (Introverted, Sensing, Feeling, Perceiving)

Reaksi ISFP terhadap kemarahan bervariasi tergantung situasi. Mereka bisa mengekspresikan amarah secara langsung atau menahannya. Kesulitan mengelola emosi negatif dapat memicu perilaku pasif-agresif atau ledakan emosi yang tak terduga.

ISTP (Introverted, Sensing, Thinking, Perceiving)

ISTP tampak tenang dan jarang marah. Namun, ketika merasa dibatasi atau dipaksa mengekspresikan emosi, mereka bisa meledak dengan intensitas tinggi. Mereka lebih suka memproses emosi secara internal, sehingga ekspresi emosi yang terbuka terasa tidak nyaman.

ENFJ (Extraverted, Intuitive, Feeling, Judging)

Berbeda dengan tipe introverted, ENFJ cenderung mengekspresikan kemarahan secara terbuka. Mereka merasa perlu ‘melepaskan’ emosi mereka. Kurangnya kesempatan untuk mengekspresikan emosi bisa membuat mereka sulit mengelola amarah dengan sehat.

ISFJ (Introverted, Sensing, Feeling, Judging)

ISFJ sering menahan kemarahan untuk menghindari konfrontasi. Namun, penekanan emosi ini bisa memicu akumulasi rasa kesal dan perilaku pasif-agresif. Mereka rentan merasa tidak dihargai jika kebutuhan emosional mereka tak terpenuhi.

INFJ (Introverted, Intuitive, Feeling, Judging)

INFJ juga cenderung menekan amarah dan menghindari konflik. Mereka memproses emosi melalui refleksi atau aktivitas kreatif. Namun, pengkhianatan atau kesalahpahaman bisa memicu reaksi verbal yang tajam dan penarikan diri dari hubungan sosial.

Strategi Mengatasi Kesulitan Mengatur Emosi

Secara umum, tipe MBTI dengan strategi “Turbulent” dan/atau fungsi “Feeling” yang dominan sering mengalami kesulitan mengatur emosi, terutama kemarahan. Mereka mungkin menekan, meledakkan, atau menunjukkan perilaku pasif-agresif.

Pemahaman terhadap kecenderungan ini sangat penting. Mengembangkan strategi manajemen emosi yang sehat, seperti mindfulness, terapi, atau latihan manajemen stres, dapat membantu individu-individu ini mengatasi tantangan emosional mereka. Dukungan sosial juga berperan krusial dalam proses ini. Dengan kesadaran diri dan strategi yang tepat, mereka dapat belajar mengelola emosi secara lebih efektif dan membangun hubungan yang lebih sehat.

Also Read

Tags

Leave a Comment