Kita sering mendengar ungkapan motivasi seperti, “Lakukan apa yang kamu cintai, dan kamu tak akan bekerja sehari pun dalam hidupmu.” Ungkapan ini, walau terdengar menarik, seringkali menutupi realita kompleks kehidupan kerja modern.
Alih-alih menyelesaikan masalah, ungkapan seperti itu justru mengabaikan akar permasalahan yang sebenarnya. Kita perlu menggali lebih dalam untuk memahami fenomena ini.
Mitos Kerja Keras: Identitas yang Hilang dalam Jerat Pekerjaan
Simone Stolzoff, dalam bukunya *The Good Enough Job: Merebut Kembali Kehidupan dari Pekerjaan*, meneliti fenomena “kerjaisme” (workism) di Amerika Serikat. Istilah ini, yang dipopulerkan oleh jurnalis Derek Thompson, menggambarkan bagaimana identitas seseorang terlalu melekat pada pekerjaannya.
Di Amerika, pertanyaan umum seperti “Apa pekerjaanmu?” menunjukkan bagaimana pekerjaan telah menjadi penanda utama identitas seseorang. Penghasilan dan posisi pekerjaan bahkan menentukan status sosial individu.
Stolzoff berfokus pada pekerja kantoran, karena kelompok ini seringkali mencari makna dan identitas diri dalam pekerjaan. Namun, temuannya relevan dengan banyak orang di berbagai belahan dunia.
Konsekuensi Kerjaisme: Stres, Depresi, dan Kehilangan Keseimbangan Hidup
Penelitian menunjukkan bahwa obsesi terhadap pekerjaan berdampak buruk pada kesehatan mental dan kesejahteraan. Tingkat stres dan kelelahan meningkat drastis.
Di Jepang, budaya kerja yang intens berkontribusi pada rendahnya tingkat fertilitas. Di Amerika Serikat, harapan sukses yang berlebihan memicu rekor tinggi depresi dan kecemasan.
Secara global, jumlah kematian akibat kerja berlebihan bahkan melampaui angka kematian akibat malaria. Sebuah survei Pew Research Center menunjukkan karier memiliki makna yang lebih besar bagi orang Amerika daripada pasangan, iman, atau persahabatan.
Globalisasi memperparah masalah ini dengan menciptakan budaya kerja yang semakin tanpa batas, menuntut ketersediaan terus-menerus.
Mencari Keseimbangan: Menuju Konsep “Cukup Baik”
Stolzoff mengusung konsep “cukup baik” (good enough), diilhami oleh teori psikoanalisis Donald Winnicott. Konsep ini menekankan bahwa pendekatan yang realistis dan seimbang, lebih berdampak positif daripada pengejaran kesempurnaan yang tak tercapai.
Buku ini mengajak kita untuk mendefinisikan kembali hubungan dengan pekerjaan. Pekerjaan hanyalah sebagian dari kehidupan, bukan keseluruhannya.
Stolzoff memperingatkan bahaya melekatkan seluruh identitas pada pekerjaan. Kegagalan kecil di tempat kerja dapat berdampak besar pada rasa harga diri, memicu kekecewaan yang mendalam.
Buku *The Good Enough Job* memberikan panduan praktis untuk menyeimbangkan kehidupan profesional dengan aspek-aspek penting lainnya, seperti keluarga, pertemanan, dan hobi.
Ia mendorong diversifikasi sumber makna dan identitas diri, agar tidak hanya bergantung pada pekerjaan semata.
Mengubah Perspektif dan Ekspektasi
Alih-alih mengejar kesempurnaan, kita diajak untuk menerima konsep “cukup baik” dalam pekerjaan. Hal ini membantu mengurangi stres dan meningkatkan kepuasan hidup.
Buku ini bukan tentang berhenti kerja atau mengejar hobi semata, tetapi tentang membangun hubungan yang lebih sehat dengan pekerjaan dengan mengubah ekspektasi yang tidak realistis.
Dengan mengendalikan ekspektasi, kita dapat memprioritaskan kehidupan di luar pekerjaan. Kita perlu menyadari nilai diri kita melebihi status pekerjaan. *The Good Enough Job* bukan solusi instan, melainkan panduan untuk membangun keseimbangan dan kebahagiaan sejati.
Buku ini mengajak kita untuk merenungkan kembali definisi sukses dan kebahagiaan, serta menemukan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional.
Semoga buku ini menjadi cermin bagi pembaca untuk mengevaluasi hubungan mereka dengan pekerjaan dan membangun kehidupan yang lebih bermakna dan seimbang.
Pada akhirnya, kita adalah lebih dari sekadar pekerjaan kita.




